kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.944.000   4.000   0,21%
  • USD/IDR 16.370   0,00   0,00%
  • IDX 7.952   15,91   0,20%
  • KOMPAS100 1.106   -0,20   -0,02%
  • LQ45 812   -1,90   -0,23%
  • ISSI 268   1,83   0,69%
  • IDX30 421   0,16   0,04%
  • IDXHIDIV20 488   0,14   0,03%
  • IDX80 122   -0,19   -0,16%
  • IDXV30 132   0,97   0,74%
  • IDXQ30 136   0,14   0,10%

Tata niaga gula kacau, pengusaha sarankan diversifikasi turunan gula


Minggu, 26 Agustus 2018 / 18:06 WIB
Tata niaga gula kacau, pengusaha sarankan diversifikasi turunan gula
ILUSTRASI. Pabrik Gula Ngadirejo


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tata niaga gula nasional dinilai perlu segera diperbaiki. Tidak hanya dari sisi peningkatan produktivitas, namun juga dari diversifikasi turunan gula. 

Pasalnya, saat Indonesia masih fokus pada peningkatan produksi, negara lain sudah mengembangkan turunan gula hingga tahap bioetanol. Akibatnya Indonesia semakin tertinggal jauh.

Avanti Fontana Periset Strategi dan Manajemen Inovasi dari Universitas Indonesia (UI), sekaligus Staf Khusus Kepresidenan menyatakan ada masalah di sisi on farm dan off farm pergulaan Indonesia. 

"Tata niaga tidak efisien, akibatnya produktivitas rendah dan tidak kompetitif, apalagi bila dibandingkan dengan luar negeri yang sudah punya berbagai produk turunan," kata Avanti kepada Kontan.co.id, Kamis (23/8) lalu.

Dalam catatan yang dipaparkan Avanti, pada 2015 produktivitas tebu mencapai 67,25 ton per hektar. Kemudian dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA), produktivitas tebu di tahun 2016 sebesar 68,3 ton per ha. 

Padahal, pada 2010 produktivitas tebu nasional pernah mencapai 78,2 ton per ha. Artinya terjadi penurunan produktivitas petani tebu yang bila dihadapi dengan impor, tidak menjadi solusi kerakyatan.

Tak hanya produktivitas yang jadi masalah, namun impor gula industri dan konsumsi juga menyebabkan kacau pada tata niaga. Menurut Avanti, dengan adanya segmentasi berupa gula rafinasi industri, gula rafinasi konsumsi dan gula rakyat menyebabkan 'moral hazard' antara industri, konsumen dan petani.




TERBARU

[X]
×