kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Terbesar di ASEAN saat ini, ekonomi dgital RI diramal tembus US$ 133 miliar di 2025


Selasa, 08 Oktober 2019 / 10:38 WIB

Terbesar di ASEAN saat ini, ekonomi dgital RI diramal tembus US$ 133 miliar di 2025
ILUSTRASI. ilustrasi start-up

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Google, Temasek dan Bain & Company merilis laporan e-Conomy SEA keempat pada tahun ini. Dari data tren pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara itu, Indonesia masih menjadi negara dengan pertumbuhan paling tinggi di kawasan.

Ekonomi digital Indonesia pada tahun ini diproyeksikan mendekati US$ 40 miliar dan diprediksi akan mencapai US$ 133 miliar pada 2025 mendatang. Jumlah tersebut lebih tinggi 30% ketimbang prediksi tahun sebelumnya.

Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia menyebut laporan ini memadukan Google Trends, riset Temasek dan analisis Bain & Company serta berbagai sumber dari industri dan wawancara ahli.

Baca Juga: Tambah Ovo, ini daftar 5 startup pemilik gelar Unicorn di Indonesia

Transformasi ekonomi Indonesia yang luar biasa menjadi pendorong pertumbuhan yang dinamis di Asia Tenggara. Baca juga: Indonesia Jadi Pasar Menjanjikan untuk Ekonomi Digital.

"Saat ini kita menyaksikan bagaimana startup-startup Indonesia menjadi pemain tingkat regional dan bagaimana pendekatan inovatif mereka memecahkan masalah lokal mampu merevolusi transportasi, jasa pengantaran makanan, wisata dan perjalanan, serta e-commerce di seluruh Asia Tenggara," ujarnya dalam siaran pers, Senin (7/10).

Jabodetabek masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dengan US$ 555 per kapita dibandingkan dengan daerah non metropolitan yang hanya US$ 103 per kapita. Namun, daerah non metropolitan diperkirakan akan tumbuh dua kali lebih pesat dalam 6 tahun ke depan.

Baca Juga: The NextDev Telkomsel ingin menjadi agregator startup terbesar di Indonesia

Florian Hoppe, Partner & Leader of Asia Pacific Digital Practice Bain & Company menyebut terdapat kekurangan akses layanan keuangan di Asia Tenggara. Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia yang hanya 42 juta penduduknya yang memiliki rekening bank.

"Dengan 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan dan 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi dan asuransi online," tambahnya.

Apalagi sebanyak 46% penelusuran tentang paket internet di Google Search berasal dari area non metro.

Perluasan pembayaran digital dan opsi pembayaran dengan pulsa membuat semakin banyak orang di luar area metro yang membayar game, musik dan video on demand menggunakan layanan tersebut.

Baca Juga: Rudiantara: Start up tidak perlu izin-izin, semuanya dipermudah

Rohit Sipahimalani, Joint Head, Investment Group Temasek menambahkan bahwa investasi yang ditanamkan untuk 3.000 startup di Asia Tenggara pada tahun ini mencapai US$ 7 miliar. Startup teknologi di sektor B2B, layanan kesehatan, dan pendidikan juga menerima pendanaan baru-baru ini.

"Kami melihat banyak potensi dalam ekonomi digital Indonesia. Populasi anak muda digital native yang sangat aktif menjadi faktor kunci dalam perkembangan ekonomi mereka," ujarnya.

Apalagi perbaikan dalam hal logistik dan pembayaran juga akan memperlancar ekonomi digital Indonesia dan potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Masih ada kebutuhan akan developer, software engineer, ilmuwan data dan SDM lainnya.


Reporter: Andy Dwijayanto
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×