Reporter: Dimas Andi | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) masih menaruh harapan bahwa kinerja bisnisnya akan membaik di sisa tahun ini. Terlebih lagi, harga komoditas timah global menunjukkan tren penguatan dalam beberapa waktu terakhir.
Sebagaimana dikutip Bloomberg, harga timah kontrak tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) berada di level US$ 18.270 per ton pada Jumat (9/10) lalu atau meningkat 6,37% (ytd). Tren kenaikan harga timah global mulai terjadi memasuki kuartal kedua tahun ini. Padahal, di pertengahan Maret lalu harga timah global sempat jatuh ke kisaran level US$ 13.000 per ton.
Sekretaris Perusahaan Timah Muhammad Zulkarnaen mengatakan, kenaikan harga timah bakal sangat berdampak terutama bagi pendapatan TINS. Sebab, kenaikan harga tersebut mencerminkan bahwa permintaan di pasar timah sudah mulai membaik kendati dalam masa pandemi Covid-19.
“Produksi dan penjualan kami mengikuti permintaan di pasar, sehingga saat harga stabil maka kinerja kami cenderung naik sesuai harapan,” kata dia, Jumat (9/11).
Baca Juga: Harga komoditas tertekan, kinerja keuangan anak usaha MIND ID merosot
Tapi, Zulkarnaen belum bisa mengungkapkan gambaran realisasi kinerja operasional maupun keuangan TINS hingga kuartal III-2020. Namun, ia memberi sinyal bahwa saat ini TINS sedang berada dalam tren yang positif dan sehat dari sisi keuangan. Bukan tidak mungkin TINS bisa mengurangi kerugian bersih yang dialami sepanjang tahun 2020 berjalan.
Asal tahu saja, kinerja TINS per semester pertama kurang memuaskan. Perusahaan ini merugi sebesar Rp 390,07 miliar usai meraih laba bersih sebesar Rp 205,29 miliar di semester satu tahun lalu. Pendapatan anak usaha MIND ID tersebut juga merosot 18,48% (yoy) menjadi Rp 7,97 triliun di semester satu silam.
Dari sisi kinerja operasional, produksi bijih timah TINS turun 47,3% (yoy) menjadi 24.990 ton di semester I-2020, sedangkan produksi logam timah perusahaan turun 26,2% (yoy) menjadi 27.833 ton. Setali tiga uang, volume penjualan logam timah TINS juga turun 0,3% (yoy) menjadi 31.508 ton.
Baca Juga: Obligasi Jatuh Tempo Bulan Ini, TINS Siapkan Dana, BMTR & TBIG Pilih Refinancing
Sebelumnya, manajemen TINS menyebut bahwa secara bulanan kinerja bottom line PT Timah membaik. Contohnya, di bulan Januari lalu TINS mengalami kerugian bersih sebesar Rp 191 miliar, namun nilai tersebut terus turun hingga ke level Rp 70 miliar di bulan April. TINS bahkan bisa mencetak laba bersih sebesar Rp 43 miliar dan Rp 50 miliar di bulan Mei dan Juni.
Zulkarnaen menambahkan, dengan adanya tren perbaikan harga timah, pihaknya berupaya kembali fokus meningkatkan penjualan ekspor. “Tentunya ini dengan mempertimbangkan kondisi pasar timah ke depan,” imbuhnya. TINS mengekspor produk logam timah ke berbagai kawasan seperti Jepang, Singapura, Korea, Amerika Serikat, hingga benua Eropa.
Baca Juga: Merugi di semester I, peluang perbaikan kinerja Timah (TINS) diklaim masih terbuka
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News