kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.867   -68,00   -0,38%
  • IDX 5.823   -73,31   -1,24%
  • KOMPAS100 754   -10,18   -1,33%
  • LQ45 576   -8,17   -1,40%
  • ISSI 201   -1,76   -0,87%
  • IDX30 327   -4,43   -1,34%
  • IDXHIDIV20 403   -5,08   -1,25%
  • IDX80 86   -1,13   -1,30%
  • IDXV30 109   -0,93   -0,85%
  • IDXQ30 105   -1,38   -1,29%

TMMIN: Industri Otomotif RI Masih Tangguh Meski Penjualan Kendaraan Melambat


Senin, 29 Juni 2026 / 14:04 WIB
TMMIN: Industri Otomotif RI Masih Tangguh Meski Penjualan Kendaraan Melambat
ILUSTRASI. Penjualan otomotif turun, tapi TMMIN sebut industri tak goyah. (SETNEG/BPMI Setpres)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyebut industri otomotif dan komponen nasional masih memiliki daya tahan yang kuat di tengah perlambatan penjualan kendaraan dan berbagai tantangan global. Besarnya pasar domestik serta kinerja ekspor dinilai masih menjadi penopang utama industri.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan, penjualan kendaraan memang mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir sehingga turut menekan industri komponen. Namun, kondisi tersebut belum mengindikasikan pelemahan fundamental sektor otomotif.

"Industri otomotif punya resiliensi yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ujar Bob dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Bob menjelaskan, industri komponen saat ini menghadapi tekanan karena merupakan sektor yang padat modal sekaligus padat karya. Kenaikan biaya tenaga kerja, tarif energi, hingga kebutuhan investasi untuk modernisasi fasilitas produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.

Baca Juga: Kemenperin: Implementasi HGBT Terkendala AGIT, Industri Terpaksa Beli Gas Mahal

Selain itu, pelaku industri komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) juga masih menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah. Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diarahkan kepada kendaraan listrik, sementara rantai pasok komponen kendaraan listrik masih didominasi negara lain.

Menurut Bob, kepastian kebijakan dibutuhkan agar industri memiliki keyakinan untuk terus melakukan investasi, termasuk memperbarui teknologi dan meningkatkan efisiensi produksi.

Di sisi lain, Bob membantah kabar yang menyebut sejumlah perusahaan komponen otomotif akan merelokasi investasinya dari Indonesia. Berdasarkan penelusuran pemerintah, informasi tersebut tidak terbukti.

Meski demikian, ia mengakui perusahaan-perusahaan multinasional saat ini tengah mengevaluasi strategi bisnis dan peta industri otomotif di kawasan ASEAN. Dalam proses tersebut, daya saing, ekosistem industri, serta kebijakan investasi masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.

Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Bidik Pasar Lansia dan Perkuat Bahan Baku Obat Lokal

Bob mengatakan, Vietnam memang semakin menarik bagi investor berkat pertumbuhan ekonomi dan berbagai insentif investasi. Namun, Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor kendaraan sekitar 500.000 unit.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang besar. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospek industri ke depan," kata Bob.

Ia menambahkan, Asia Tenggara kini telah berkembang menjadi salah satu basis produksi global, tidak hanya untuk industri otomotif, tetapi juga elektronik dan manufaktur lainnya. Karena itu, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing melalui perbaikan iklim investasi dan peningkatan orientasi ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×