kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Tolak BK karet, Apkarindo gerilya ke petani karet


Rabu, 21 Maret 2012 / 16:37 WIB
ILUSTRASI. Lemon


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Meskipun pemberlakuan bea keluar (BK) ekspor karet baru sebatas wacana, tetapi Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) tak mau kecolongan dari rencana kebijakan pemerintah ini.

Sejak pertama kali niat BK karet dilontarkan pemerintah, Apkarindo sudah bergerilya ke daerah untuk konsolidasi, guna menolak kebijakan itu.

Lukman Zakaria, Ketua Umum Apkarindo bilang, selama bulan Maret ini saja, pihaknya telah bertemu dengan petani karet di Sumatera Selatan, Jambi, dan Medan. "Kami terus melakukan aksi penolakan dengan memberi pemahaman langsung ke pengurus daerah dan petani," kata dia, Rabu (21/3).

Menurut dia, wacana BK untuk ekspor karet sebesar 10% bisa merugikan petani. Sebab, beban pembayaran BK kepada negara akan memangkas harga karet dari petani. Lukman beri contoh, jika BK karet berlaku, harga karet dari petani semula Rp 15.000 per kilogram (kg) akan turun menjadi Rp 5.000 per kg sampai Rp 7.000 per kg.

Padahal, kata Lukman, dari 3,4 juta hektare (ha) perkebunan karet di Indonesia, sebesar 3,4 juta ha dikelola langsung oleh masyarakat. Sisanya baru dikelola oleh perusahaan besar dan juga perusahaan milik pemerintah.

Saat ini, Apkarindo akan berusaha menggalang aksi penolakan terhadap penerapan BK untuk ekspor karet. Jika aturan tetap dilakukan, Lukman mengaku sudah mendapat dukungan dari petani untuk menggelar aksi demonstrasi besar-besaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×