Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Bisnis riteler milik Chairul Tanjung (CT) yakni PT Trans Retail Indonesia ikut terseret arus perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ritel yang sedang mengkonversi nama menjadi Transmart Carrefour dari sebelumnya Carrefour ini selektif mendirikan gerai untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Selektif disini adalah mendirikan gerai sesuai permintaan pasar.
Satria Hamid Ahmadi, General Manager Corporate Communication Trans Retail Indonesia, mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan pelemahan nilai tukar (kurs) membuat penjualan barang tidak besar. Misalnya, rupiah yang terus lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung membuat konsumen menahan diri untuk belanja di pasar modern.
Alhasil, perusahaan menekan biaya operasional untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Trans Retail Indonesia hanya akan mendirikan lima gerai hipermarket tahun ini. Jumlah ini sama seperti pendirian lima gerai pada tahun 2014. Perusahaan telah mendirikan empat gerai dari target lima gerai. "Gerai kelima akan operasional pada Oktober 2015 di Makassar," tambah Satria.
Gerai ini akan berdiri di atas luas lahan 5.000 meter persegi (m2) dengan kapasitas barang rata-rata 40.000-50.000 per stock keeping unit (sku). Gerai Transmart Carrefour ini akan menjadi gerai ke-90 dari jumlah 89 gerai per September 2015. Selain Carrefour, perusahaan akan menambah satu gerai Groserindo dari total pendirian dua gerai.
Sayangnya, Satria enggan menyebut biaya investasi pendirian gerai tersebut. Namun, perusahaan mengakui mengeluarkan dana di atas Rp 5 miliar hingga puluhan miliar untuk mendirikan satu gerai Transmart Carrefour dan Groserindo Carrefour.
Selain selektif mendirikan gerai, untuk mengejar efisiensi, perusahaan memilih membeli produk dari hulu untuk memperoleh harga yang sepadan, serta memanfaatkan kerja sama kartu kredit untuk mendorong konsumen berbelanja.
Harapannya, cara ini dapat mendorong konsumen untuk belanja di pasar modern. "Meskipun barang impor kami sedikit namun pelemahan kurs menurunkan daya beli," katanya kepada KONTAN, Senin (21/9).
Saat ini, komponen barang di Transmart Carrefour sekitar 90% dari dalam negeri, sisanya 10% dari luar negeri. Kemudian, dari 90% barang, sekitar 70% adalah hasil usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Dari sisi permodalan, perusahaan mengaku masih memiliki modal yang besar untuk ekspansi bisnis. Selain itu, perusahaan milik CT ini belum ada rencana untuk melakukan penawaran saham umum perdana atau inital public offering (IPO) untuk memperoleh permodalan dari investor lain, seperti para riteler lainnya yang sudah lebih awal go public.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













