Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menargetkan penjualan mencapai sekitar Rp 3 triliun pada tahun buku 2026.
Target tersebut ditopang oleh optimalisasi produksi tandan buah segar (TBS) dari kebun sendiri serta pembelian TBS dari kebun plasma dan pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan pengolahan dan penjualan produk sawit.
Hingga kuartal III-2026, UNSP membukukan penjualan sebesar Rp 2,21 triliun, meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,86 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari komoditas sawit yang mencapai Rp 2,15 triliun atau sekitar 97% dari total penjualan. Sementara itu, komoditas karet menyumbang Rp 58 miliar atau sekitar 3%.
Baca Juga: Industri Bangunan dan Properti Dituntut Perkuat Kolaborasi
Dari sisi profitabilitas, laba kotor UNSP meningkat 4% menjadi Rp 598 miliar pada kuartal III-2026. Namun, laba operasi turun 10% menjadi Rp 281 miliar dan EBITDA terkoreksi 3% menjadi Rp 419 miliar.
Di sisi lain, perseroan berhasil memperkecil rugi bersih sebesar 32% menjadi Rp 43 miliar, dibandingkan rugi bersih Rp 63 miliar pada kuartal III-2025.
Direktur dan Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto mengatakan, perseroan terus mengoptimalkan produktivitas aset kebun melalui program peremajaan tanaman dan penggunaan bibit unggul.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan hasil produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) per hektare sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang telah dimiliki.
“Perseroan terus berupaya mengoptimalkan produktivitas aset kebun melalui program peremajaan dan penggunaan bibit unggul. Strategi ini diarahkan untuk meningkatkan hasil produksi ton CPO per hektar dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang telah dimiliki untuk memperkuat daya saing dan profitabilitas Perseroan secara berkelanjutan,” kata Andi dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Selain mengoptimalkan kebun sendiri, UNSP juga meningkatkan produktivitas pabrik melalui pembelian buah sawit dari petani yang tidak memiliki fasilitas pengolahan. Perseroan menyebut langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.
Di luar perbaikan kinerja operasional, UNSP juga memperkuat struktur permodalan melalui konversi utang menjadi saham lewat penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD), serta revaluasi aset tanah dan tanaman produktif.
Hingga 30 September 2026, total aset perseroan meningkat 115% menjadi Rp 7,48 triliun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 3,48 triliun. Peningkatan tersebut terutama didukung oleh revaluasi aset tanah dan tanaman produktif sebesar Rp 3,74 triliun.
Pada periode yang sama, total liabilitas UNSP turun 46% menjadi Rp 4,71 triliun dari Rp 8,75 triliun pada akhir 2025. Penurunan tersebut terutama didorong oleh konversi utang menjadi saham senilai Rp 4,35 triliun.
Sejalan dengan itu, ekuitas perseroan berbalik positif menjadi Rp 2,77 triliun per 30 September 2026, dari posisi negatif Rp 5,27 triliun pada akhir 2025. Perseroan mencatat perbaikan ekuitas sebesar Rp 8,04 triliun atau meningkat 153%.
UNSP menyebut konversi utang mengurangi kewajiban sekaligus memperkuat struktur permodalan. Sementara itu, revaluasi aset memperbarui nilai tercatat tanah dan tanaman produktif agar mencerminkan nilai wajar, dengan peningkatan ekuitas melalui surplus revaluasi.
Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Tetap Tumbuh Meski Anggaran Perjalanan Dinas Dipangkas 30%
Dari sisi pengembangan kebun, perseroan juga mengandalkan penggunaan bibit unggul untuk meningkatkan produktivitas tanpa perlu menambah luas lahan.
Berdasarkan hasil lapangan bibit unggul yang telah disertifikasi, UNSP menyebut potensi produktivitasnya dapat mencapai 10 ton CPO per hektare per tahun, dengan produksi TBS 40 ton per hektare per tahun dan tingkat ekstraksi CPO sebesar 25%.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan produktivitas sawit nasional yang saat ini disebut berada di kisaran 3 ton CPO per hektare per tahun. Potensi produktivitas bibit unggul tersebut diharapkan dapat dioptimalkan melalui program peremajaan atau replanting.
Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto mengatakan, strategi peningkatan produktivitas kebun dan pabrik akan dilanjutkan dengan optimalisasi aset lainnya serta perbaikan struktur permodalan.
“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkret peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” ujar Bayu.
Dalam menjalankan kegiatan perkebunan, UNSP juga menyatakan mengikuti protokol Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), termasuk menerapkan kebijakan zero burning atau tanpa pembakaran. Perusahaan turut menyoroti aspek keberlanjutan yang mencakup kesejahteraan petani, pengelolaan limbah, pencegahan deforestasi, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.
Baca Juga: Jaga Hutan Kalimantan, Kalara Borneo Bangun Rantai Pasok Kakao Masyarakat Adat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














