kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Walau ada corona, aktivitasl pabrik tekstil dan alas kaki masih berjalan normal


Minggu, 15 Maret 2020 / 22:05 WIB
Walau ada corona, aktivitasl pabrik tekstil dan alas kaki masih berjalan normal
ILUSTRASI. Konsumen memilih produk di sebuah gerai sepatu di Jakarta. KONTAN/Baihaki


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sudah menghimbau masyarakat untuk bekerja di rumah alias work from home (WFH), meski demikian pelaku industri di sektor tekstil dan alas kaki belum menghentikan aktivitas manufaktur.  Pasalnya, ada aktivitas pabrik tertentu yang dikatakan tidak bisa dilakukan di rumah.

Ketua Umum Asosisasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengungkapkan sampai saat belum ada lnformasi Anggota API yang  meliburkan karyawannya akibat Corona. "Sejauh ini produksi pabrik masih normal sambil menunggu petunjuk dari pemerintah lebih lanjut," jelasnya kepada Kontan.co.id, Minggu (15/3).

Baca Juga: Menkominfo Johnny Plate jalani tes kesehatan corona, ini hasil sementara

Adapun Jemmy menyatakan API sudah melakukan himbauan ke anggota untuk meningkatkan keamanan dengan pengecekan suhu tubuh dan penyediaan masker dan hand sanitizer bagi karyawan. Begitu juga dengan industri alas kaki yang aktivitas pabrik masih berjalan seperti biasanya pada Senin (16/3).

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menyatakan himbauan bekerja di rumah atau work from home (WFH) dari pemerintah cukup baik. "Tapi rasanya tujuannya bukan untuk menghentikan total aktivitas, tetapi mengurangi pergerakan orang," jelasnya.

Menurut Firman ada bagian di dalam aktivitas industri tertentu yang tidak bisa dikerjakan di  rumah, misalnya di bagian produksi alas kaki. Firman bilang bagian ini memerlukan kehadiran pekerja dengan catatan setiap perusahaan telah menyiapkan protokol keselamatan untuk mengurangi penyebaran Covid-19 di area kerja.

Firman mengungkapkan, sebelum gempar Covid-19 di Indonesia, kerugian yang ditanggung industri alas kaki sudah dirasakan sejak adanya outbreak virus Corona di Wuhan China. "Kalau kemudian benar terjadi lockdown atau penghentian total tentu akan semakin merugikan pabrik," ungkapnya.

Baca Juga: Saran ekonom ke pemerintah untuk cegah penyebaran wabah corona

Firman tidak memerinci berapa total kerugiannya hingga saat ini. Namun sebagai gambaran, adanya penetapan WHO Korona sebagai pandemik, sejumlah jadwal kunjungan buyer ke pabrik terpaksa dibatalkan dan ditunda.

Firman berpesan kepada pemerintah, saat ini diperlukan protokol khusus andaikata aktivitas produksi harus dihentikan oleh pemerintah. "Pastinya tentu kita akan mengikuti ketetapan pemerintah yang berlaku dan berupaya supaya kinerja pabrik bisa kembali normal," kata Firman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×