kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Waspada, Saat Belanja Teknologi Tertahan, Ancaman Siber Justru Meningkat


Kamis, 04 Juni 2026 / 14:39 WIB
Waspada, Saat Belanja Teknologi Tertahan, Ancaman Siber Justru Meningkat
ILUSTRASI. Ilustrasi web site PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang memicu banyak perusahaan menahan belanja teknologi, ancaman siber justru terus meningkat. Kondisi ini membuka peluang bagi perusahaan keamanan siber, seiring kebutuhan perlindungan digital yang semakin mendesak.

PT Itsec Asia Tbk (CYBR) menilai, tren tersebut memperkuat relevansi industri keamanan siber dalam jangka panjang. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang Januari-November 2025 tercatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di Indonesia.

Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi target utama serangan. Menurut tim Threat Intelligence Itsec Asia, ancaman yang berkembang pesat saat ini berasal dari stealer malware yang mampu mencuri kata sandi, kredensial cloud, hingga akses ke aplikasi bisnis. Data BSSN juga menunjukkan 93,78% anomali trafik nasional pada 2025 berkaitan dengan malware.

Di sisi lain, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta masuknya RUU Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2026 diperkirakan akan mendorong kebutuhan layanan keamanan siber di berbagai sektor.

Baca Juga: Begini Strategi Telkom (TLKM) Group Demi Upayakan Keamanan Siber Pengguna

Presiden Direktur Itsec Asia, Patrick Dannacher menjelaskan, tekanan ekonomi global tidak mengurangi ancaman kejahatan siber. Menurutnya, saat perusahaan mengurangi anggaran dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman justru melihat peluang untuk meningkatkan serangan.

Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang. Indonesia berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan reaktif.

"Kami membangun Itsec Asia untuk momentum seperti ini. Bukan sebagai respons terhadap krisis, melainkan sebagai infrastruktur yang sudah siap saat krisis tiba," ujar Patrick dalam keterangan resmi, Rabu (3/6). 

Itsec Asia menilai, penguatan regulasi, percepatan transformasi digital, serta meningkatnya kesadaran terhadap risiko siber akan menjadi pendorong pertumbuhan industri keamanan siber dalam beberapa tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×