Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memacu substitusi energi fosil melalui pemanfaatan biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Ini diambil mengingat dominasi penggunaan batubara serta minyak dan gas yang masih memegang porsi terbesar dalam sistem ketenagalistrikan nasional saat ini.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir menjelaskan, sebagian besar pembangkit di tanah air masih ditopang energi fosil. Oleh karena itu, pengoptimalan program co-firing biomassa menjadi salah satu opsi strategis bagi perusahaan untuk menekan angka emisi karbon sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.
Baca Juga: GMFI: Bea Masuk 0% Impor Barang Kebutuhan MRO Perkuat Daya Saing Industri Aviasi
"Sekitar 90% pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batubara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/7/2026).
Hokkop menegaskan, seluruh bahan baku biomassa yang dipasok PLN EPI bersumber murni dari limbah atau residu industri kehutanan, perkebunan, hingga pertanian. Pendekatan ini diterapkan untuk memastikan bahwa proses substitusi energi tidak memicu aktivitas penebangan hutan maupun merusak kelestarian lingkungan hidup.
"Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan," jelasnya.
Guna menjaga kelancaran pasokan, PLN EPI juga membangun model ekosistem Spoke–Hub serta memanfaatkan sistem digitalisasi Marketplace Biomassa.
Infrastruktur ini dirancang khusus untuk menghubungkan titik pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi menuju ke 52 lokasi PLTU yang tersebar di wilayah Indonesia.
Baca Juga: Pemerintah Mantap Terapkan E10 di 2027, Tapi Masih Defisit Etanol 3,5 Juta Kiloliter
Lebih lanjut, Hokkop menargetkan, volume penyediaan biomassa dapat terus meningkat hingga mencapai angka 3,65 juta ton sepanjang tahun 2026 ini.
Penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir tersebut diharapkan mampu menjamin kontinuitas pasokan bahan bakar ramah lingkungan tanpa mengganggu keandalan operasional pembangkit listrik secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














