Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) ungkap kebijakan pemerintah yang menetapkan tarif Bea Masuk 0% untuk impor barang kebutuhan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) sebagai langkah positif dalam memperkuat daya saing industri aviasi nasional.
Meski demikian, perseroan menyebut dampak langsung terhadap biaya pengadaan perusahaan masih relatif terbatas.
Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) Andi Fahrurrozi menjelaskan, selama ini GMFI telah memanfaatkan fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB).
Melalui skema tersebut, bea masuk atas impor suku cadang, komponen, dan material pesawat yang disimpan di PLB masih ditangguhkan sehingga perusahaan tidak merasakan perubahan biaya yang signifikan dari kebijakan baru tersebut.
“Bagi GMF, dampak langsung terhadap biaya pengadaan relatif terbatas karena perseroan telah memanfaatkan fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB),” ujar Andi kepada KONTAN, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Jababeka (KIJA) Alihkan Saham Anak Usaha Lewat Transaksi Internal
Ia menjelaskan, melalui mekanisme PLB, kewajiban pembayaran bea masuk baru dilakukan oleh pelanggan setelah proses perawatan pesawat selesai. Kendati demikian, GMFI menilai kebijakan tarif Bea Masuk 0% tetap membawa manfaat bagi industri secara keseluruhan, terutama dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Perseroan juga menyambut baik diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 50 Tahun 2026 yang memberikan fasilitas tarif Bea Masuk 0% untuk impor barang tertentu, termasuk kebutuhan industri MRO.
Menurut GMFI, regulasi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi biaya operasional di tengah tantangan rantai pasok global dan ketidakpastian geopolitik, termasuk yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, perusahaan memandang kebijakan tersebut dapat memperkuat daya saing industri MRO nasional karena biaya perawatan pesawat di dalam negeri menjadi lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Insentif B40-B50 Capai Rp 32 Triliun, Realisasi Semester I-2026 Tembus Rp 17 Triliun
“Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri MRO nasional di tingkat global,” jelasnya.
Meski optimistis terhadap prospek industri, GMFI masih melakukan analisis lebih lanjut mengenai potensi peningkatan permintaan layanan perawatan pesawat setelah kebijakan tarif Bea Masuk 0% diberlakukan.
Ke depan, GMFI berharap implementasi kebijakan tersebut turut didukung oleh sistem yang terdigitalisasi dan terintegrasi. Dengan demikian, proses pengadaan material bagi pelaku industri MRO dapat berlangsung lebih cepat, efisien, dan mampu menjaga kelancaran operasional di tengah meningkatnya kebutuhan layanan perawatan pesawat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














