Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat
Untuk nikel dan kobalt, misalnya, Jokowi mengatakan kedua komoditas itu merupakan kunci bagi pengembangan kendaraan listrik. Sebab, nikel dan kobalt merupakan bahan baku yang diperlukan untuk membuat baterai lithium.
Untuk itu, Jokowi menekankan agar kedua komoditas itu tidak diekspor dalam bentuk mentah. "Sangat keliru sekali kalau barang ini kita ekspor. Sehingga desain strategi besar bisnis negara dalam jangka ke depan kita ingin bangun mobil listrik bisa kita capai," ungkap Jokowi.
Sedangkan untuk batubara, Jokowi mennyampaikan bahwa hilirisasi emas hitam ini bisa menghasilkan sejumlah komoditas energi yang sampai saat ini masih diimpor, yakni LPG dan petrokimia. "Jadi ngapain kita impor LPG, impor petrokimia yang besar. Begitu ini muncul, hilang itu defisit CAD kita, enggak akan lebih dari 3 tahun," imbuhnya.
Baca Juga: MIND ID: Negosiasi divestasi PT Vale masih berlangsung
Dengan begitu, kata Jokowi, Indonesia pun tak perlu lagi merasa cemas terhadap tekanan perekonomian maupun nilai tukar rupiah. "Kalau defisit CAD dan neraca dagang selesai, ya kita enggak akan ketakutan mengenai rupiah versus dolar atau rupiah dengan mata uang lain. Kan aman kita," terang Jokowi.
Apabila ada kendala yang ditemui dalam melakukan hilirisasi, Jokowi pun bahkan mengajak perusahaan untuk berdiskusi. Termasuk untuk urusan pendanaan, Jokowi berjanji akan mencarikan solusi jika hal itu menjadi kendala.
"Kalau ada masalah yang berkaitan dengan pendanaan mari kita bicara. Saya bisa carikan solusi kalau diperlukan. Saya sampaikan, bahwa bapak ibu (pengusaha tambang) semuanya orang kaya jadi urusan pendanaan mestinya tidak ada masalah. Namun kalau ada masalah, mari berbicara, di Istana mari saya undang," tandas Jokowi.
Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) gugat pemerintah ke PTUN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News