kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

AI Percepat Serangan Siber, Indonesia Masuk Peringkat 24 Dunia


Selasa, 13 Oktober 2026 / 15:13 WIB
AI Percepat Serangan Siber, Indonesia Masuk Peringkat 24 Dunia
ILUSTRASI. Penggunaan AI dalam platform transkripsi (Shutterstock/Jutharat Jaroenwong)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat serangan siber semakin cepat dan sulit diantisipasi. Risiko ini kian besar seiring meningkatnya ketergantungan perusahaan pada layanan cloud, identitas digital, dan rantai pasok perangkat lunak.

Laporan Microsoft Digital Defense Report 2026 menempatkan Indonesia di peringkat ke-24 dunia dan ke-10 di Asia Pasifik sebagai negara dengan pelanggan yang paling sering terdampak aktivitas ancaman siber. Peringkat tersebut berdasarkan temuan Microsoft selama periode Juli 2025 hingga Juni 2026.

Laporan itu mengungkapkan, pelaku kejahatan siber semakin memanfaatkan AI untuk mencari celah keamanan, membuat malware, serta menjalankan phishing dan penipuan digital dalam skala besar. Teknologi ini juga memungkinkan serangan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari dilakukan dalam hitungan detik.

Selain mempercepat serangan, AI memperluas risiko terhadap identitas digital dan data perusahaan. Pelaku dapat mencuri kredensial pengguna untuk memperoleh akses tanpa izin, kemudian memanfaatkannya untuk menjangkau sistem dan informasi penting lainnya.

Data Microsoft Threat Intelligence menunjukkan, 63% intrusi siber secara global melibatkan pencurian data. Microsoft juga mendeteksi lebih dari 46 juta serangan penyamaran identitas melalui email bisnis. Sementara itu, sebanyak 73,3% upaya serangan siber melibatkan interaksi pengguna, penyalahgunaan akun yang valid, rekayasa sosial, dan phishing.

Baca Juga: AI Ubah Peta Lapangan Kerja, Pendidikan Vokasi Masih Punya Prospek

Managing Director Microsoft Indonesia Gunawan Susanto mengatakan, keamanan siber perlu menjadi fondasi bagi organisasi yang ingin memanfaatkan AI. “Tanpa perlindungan sistem, data, dan identitas yang memadai, adopsi teknologi tersebut dapat meningkatkan risiko operasional,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (13/10).

Di sisi lain, AI juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan siber. Teknologi ini membantu perusahaan mendeteksi ancaman, mengidentifikasi kerentanan, mempercepat investigasi, hingga mengotomatisasi respons terhadap insiden keamanan.

Meski demikian, Microsoft menilai organisasi tidak cukup hanya mengandalkan pencegahan serangan. Perusahaan perlu memastikan sistem dan layanan penting tetap berjalan, serta mampu pulih dengan cepat ketika terjadi gangguan.

Untuk itu, organisasi perlu memperkuat autentikasi, membatasi hak akses pengguna, dan melindungi data sensitif. Perusahaan juga perlu memperbarui sistem keamanan perangkat yang terhubung ke internet, menguji kesiapan menghadapi serangan, serta memantau keamanan perangkat lunak yang digunakan.

Penguatan tata kelola AI dan kolaborasi dalam pertukaran informasi ancaman juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Langkah ini diperlukan agar perusahaan dapat mengendalikan penggunaan teknologi sekaligus mengurangi risiko yang muncul dari keterhubungan sistem digital.

Bagi Indonesia, meningkatnya penggunaan AI dan layanan digital membuat ketahanan siber semakin penting bagi keberlangsungan bisnis. Kemampuan perusahaan untuk menjaga data, mempertahankan operasional, dan memulihkan sistem setelah serangan akan turut menentukan kepercayaan terhadap ekosistem digital.

Baca Juga: YouTube: AI Jadi Alat Bantu Kreator, Bukan Pengganti Kreativitas Manusia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×