kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.325   92,40   1,12%
  • KOMPAS100 1.163   24,10   2,12%
  • LQ45 834   20,72   2,55%
  • ISSI 297   1,39   0,47%
  • IDX30 431   9,97   2,36%
  • IDXHIDIV20 512   11,68   2,33%
  • IDX80 129   2,77   2,20%
  • IDXV30 139   2,22   1,63%
  • IDXQ30 140   3,87   2,85%

Aksi Boikot Produk Pro Israel Membuat Pedagang Kelontong Khawatir


Jumat, 08 Desember 2023 / 19:01 WIB
Aksi Boikot Produk Pro Israel Membuat Pedagang Kelontong Khawatir
ILUSTRASI. Ajakan boikot terhadap produk berafiliasi Israel membuat pedagang kelontong cukup was-was./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/22/07/2021.


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ajakan boikot terhadap produk berafiliasi Israel membuat pedagang kelontong cukup was-was. Sudarmi (50) sehari-hari menjual sembako hingga makanan dan minuman di daerah Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, merasakan penurunan cukup signifikan.

Sebagai informasi, pemboikotan produk merek tertentu menguat seiring serangan Israel ke Palestina dua bulan belakangan. Merespon hal tersebut, masyarakat dunia, termasuk Indonesia menyerukan boikot terhadap produk-produk yang mendukung Israel. 

Baca Juga: Ini Dampak Aksi Boikot Produk Pro Israel ke Warung Kelontong Hingga Perusahaan Besar

"Pembeli yang datang langsung memilih brand apa, menghindari merek tertentu," ujarnya, Jumat (8/12). 

Ia melanjutkan, distributor AMDK yang dikabarkan terafiliasi dengan Israel bahkan sempat tidak datang mengisi stok beberapa hari karena banyak stok yang masih tersedia. Lalu, anak-anak sekolah yang biasanya jajan atau membeli cemilan turut berkurang sejak adanya ajakan boikot.

Baca Juga: Aksi Boikot Produk Pro Israel Belum Terasa Pemilik Warung Kelontong di Tangsel

Akibat hal ini, Darmi memilih untuk tidak memperbarui stok dan fokus menghabiskannya dulu. Dia juga menilai, hal ini tidak hanya disebabkan oleh boikot tetapi juga daya beli masyarakat yang masih sepenuhnya belum pulih di daerahnya. Ia berpendapat, masyarakat jadi lebih enggan mengeluarkan uang.

"Penurunan penjualan untuk produk tertentu terasa sekali bisa sampai 50% dibandingkan biasanya. Produk lainnya masih aman, tapi jadi lebih sepi," papar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×