kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.587   34,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

APTRI: Pengawasan gula rafinasi perlu diperketat


Senin, 06 November 2017 / 18:17 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terjadinya kebocoran Gula Kristal Rafinasi (GKR) dinilai perlu pengetatan dalam jalur distribusi.

"Saat ini penjualan GKR tanpa melalui distributor langsung kepada industri makanan dan minuman," ujar Ketua Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen kepada Kontan.co.id, Senin (6/11).

Berdasarkan hal itu, Soemitro bilang kemungkinan kebocoran gula berada pada dua titik tersebut. Oknum yang membocorkan GKR dinilai apabila bukan berasal dari industri makanan dan minuman, maka berasal dari pabrik produsen GKR.

Kesulitan dalam pengawasan gula adalah tidak terdeteksi kemana GKR tersebut berpindah. Pengiriman yang menggunakan truk dinilai rentan terjadi perpindahan tangan sebelum sampai tujuan. Potensi kebocoran GKR per tahun diperkirakan oleh Soemitro mencapai 500.000 ton.

Mengatasi hal tersebut Soemtiro sepakat bila penjualan GKR dilakukan melalui sistem lelang. "Kami sepakat apabila penjualan GKR dilakukan melalui sistem lelang," terang Soemitro.

Hal tersebut dinilai Soemitro akan membuat peredaran GKR dapat terdeteksi. Ditambah dengan barcode membuat jual beli GKR lebih transparan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×