kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

APTRI: Pengawasan gula rafinasi perlu diperketat


Senin, 06 November 2017 / 18:17 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terjadinya kebocoran Gula Kristal Rafinasi (GKR) dinilai perlu pengetatan dalam jalur distribusi.

"Saat ini penjualan GKR tanpa melalui distributor langsung kepada industri makanan dan minuman," ujar Ketua Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen kepada Kontan.co.id, Senin (6/11).

Berdasarkan hal itu, Soemitro bilang kemungkinan kebocoran gula berada pada dua titik tersebut. Oknum yang membocorkan GKR dinilai apabila bukan berasal dari industri makanan dan minuman, maka berasal dari pabrik produsen GKR.

Kesulitan dalam pengawasan gula adalah tidak terdeteksi kemana GKR tersebut berpindah. Pengiriman yang menggunakan truk dinilai rentan terjadi perpindahan tangan sebelum sampai tujuan. Potensi kebocoran GKR per tahun diperkirakan oleh Soemitro mencapai 500.000 ton.

Mengatasi hal tersebut Soemtiro sepakat bila penjualan GKR dilakukan melalui sistem lelang. "Kami sepakat apabila penjualan GKR dilakukan melalui sistem lelang," terang Soemitro.

Hal tersebut dinilai Soemitro akan membuat peredaran GKR dapat terdeteksi. Ditambah dengan barcode membuat jual beli GKR lebih transparan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×