Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Industri Mineral (BIM) menilai Indonesia perlu segera membangun ekosistem logam tanah jarang (LTJ) secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pembentukan ekosistem ini demi menghadapi rumitnya pemisahan unsur LTJ serta tingginya proteksi teknologi dari negara-negara maju.
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM, Yogi Wibisono Budhi menjelaskan, karakteristik LTJ memiliki tingkat kesulitan teknis yang sangat tinggi. Kondisi tersebut memicu sejumlah negara produsen memperketat akses terhadap teknologi pemrosesan maupun rantai pasok bahan penunjangnya.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Kesempatan Perusahaan Migas Genjot Produksi
"Kelompok yang ada di dalam logam tanah jarang ada 17 unsur logam yang semuanya itu kalau dilihat dari tabel periodik berada dalam satu golongan yang sama. Sehingga memang akan membawa satu konsekuensi bagaimana proses pemisahan menjadi single element itu sangat sulit," ujarnya dalam Ulang Tajun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).
Tingginya kerumitan teknik pemisahan tersebut dimanfaatkan oleh pemain global untuk mengunci dominasi pasar. Yogi menyebut hambatan ini menjadi sorotan, mengingat penguasaan teknologi dan bahan kimia pendukung di industri LTJ saat ini dikuasai secara ketat oleh sebagian kecil negara.
"Beberapa negara berusaha untuk mengunci teknologi-teknologi yang telah mereka kembangkan. Bahkan tidak hanya teknologi, tetapi semua sistem rantai pasok bahan-bahan kimia yang menjadi kebutuhan di dalam proses pemisahan di dalam teknologi ini juga menjadi satu hal yang dikunci oleh sejumlah negara-negara yang telah mengembangkan," jelasnya.
Baca Juga: MahaDasha Perkuat Bisnis Kendaraan Komersial Berat
Meskipun menghadapi tantangan teknologi global, Indonesia dinilai memiliki modal modal dasar berupa kelimpahan cadangan bahan baku. Yogi membeberkan, potensi sumber daya LTJ nasional dapat dikembangkan melalui kajian mendalam pada berbagai tingkatan sumber eksplorasi.
"Nah Indonesia sendiri tentunya mempunyai beberapa potensi yang memang bisa kita kaji secara terus-menerus yang mulai dari sumber-sumber primer, sumber sekunder dan juga sumber test," tuturnya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Yogi menekankan pentingnya pembentukan rantai pasok dalam negeri. Kepastian pasokan bahan baku, kematangan riset teknologi, serta kesiapan industri pengguna di sektor hilir harus dirancang sejak awal agar saling terhubung secara terpadu.
"Di dalam membangun sebuah industri yang memang nantinya memproduksi logam tanah jaram, maka kita memerlukan sebuah ekosistem yang integratif. Dan tentunya ini sangat penting di dalam mendukung kepastian mulai dari bahan bagi, dari resources maupun reserve, kemudian juga kematangan di dalam teknologi, hingga kemudian pada hilirisasi semua perusahaan industri yang ada di belakangnya, ini menjadi satu-kesatuan ekosistem yang harus dipastikan, bisa kita ciptakan di awal," tuturnya.
Baca Juga: Henkel Perkenalkan Produk Teknologi Perlindungan Infrastruktur di IEE Series 2026
Oleh karena itu, penyiapan ekosistem industri LTJ tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar yang berkembang secara alami. Koordinasi terencana diperlukan demi menjamin kelangsungan operasional industri manufaktur berbasis mineral strategis ini di tanah air dalam jangka panjang.
"Jadi ekosistem ini sangat penting untuk kita bangun atau kita ciptakan, jadi bukan yang terbentuk secara kebetulan, ya sehingga nanti bagaimana kita bisa menilai satu rangkaian dari mulai mulu proses hingga hilir menjadi sebuah sistem yang sangat solid, kuat, dan juga berkelanjutan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














