kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bagaimana MRT Jakarta menggeber pendapatan non tiket?


Selasa, 15 Oktober 2019 / 17:59 WIB

Bagaimana MRT Jakarta menggeber pendapatan non tiket?
ILUSTRASI. Penumpang memadati MRT di stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (28/3).

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Investasi sebesar Rp 16 triliun telah digelontorkan untuk pembangunan mass rapid transit Jakarta. PT MRT Jakarta selaku operator, selain untuk memberikan pelayanan publik yang prima, juga bertugas untuk menghasilkan pendapatan dari investasi itu.

Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin menjelaskan, MRT Jakarta memiliki beberapa sumber pendapatan non tiket saat ini. “Ritel, iklan, telekomunikasi, dan transit oriented development (ToD),” katanya pada Selasa (15/10).

Baca Juga: MRT Jakarta akan bangun skybridge di Stasiun Lebak Bulus

Adanya Peraturan Gubernur nomor 67 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kawasan Berorientasi memungkinkan MRT Jakarta untuk mengusahakan kawasan yang dimaksud dari sebelumnya hanya sebagai penata kawasan. Hal itu juga memungkinkan MRT Jakarta melakukan kerja sama dengan pengembang untuk meningkatkan layanan integrasi antara bisnis pengembang dan MRT Jakarta.

Saat ini ada 13 kawasan ToD yang akan terintegrasi dengan MRT Jakarta. Sementara ini, kata Kamaluddin, MRT Jakarta telah mengajukan lima kawasan. Adapun persisnya, Kamaluddin belum berkenan membeberkan di mana lima kawasan itu.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar juga mengatakan, pihaknya ke depan berencana untuk mengembangkan lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk dijadikan mixed use tidak jauh dari Stasiun Lebak Bulus. Lahan itu merupakan lahan yang kini dijadikan fasilitas park and ride atau penumpang MRT Jakarta yang menitipkan kendaraannya di sana.

Baca Juga: MRT Jakarta targetkan pendapatan tiket Rp 400 miliar tahun 2020

Nanti fasilitas park and ride itu akan dibangun vertikal. Kemudian, di atas park and ride akan dibangun pula hunian yang ditujukan untuk setiap segmen pembeli.

Skema kerja sama itu saat ini masih di tahap finalisasi di manajemen MRT Jakarta. Nantinya, MRT Jakarta juga akan berkoordinasi dengan pengembang untuk membahas skema kerja sama yang paling tepat. “Tapi rencana ini masih lama, masih tiga tahun ke depan,” tambah William.

Kamaluddin mengatakan, untuk bisnis ritel, slot yang tersedia disebutnya sudah hampir penuh. Sementara untuk iklan, MRT Jakarta juga akan menyediakan slot iklan di pilar stasiun layang MRT Jakarta. “Ini masih berjalan perolehan mitranya,” tambahnya.

Baca Juga: Beroperasi penuh 2021, berikut fakta-fakta menarik LRT Jabodebek

Tahun ini, kata Kamaluddin, MRT Jakarta menargetkan pendapatan non tiket sebesar Rp 100 miliar. Adapun di 2020, pihaknya menargetkan pendapatan non tiket mencapai Rp 150 miliar. “Itu angka konservatif,” terangnya.


Reporter: Harry Muthahhari
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan


Close [X]
×