Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mulai merealisasikan rencana diversifikasi impor minyak mentah dengan mendatangkan pasokan dari Amerika Serikat (AS) secara bertahap. Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik global sekaligus untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, impor minyak mentah dari AS saat ini sudah mulai berjalan meski belum dilakukan dalam volume besar.
“Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap. Tidak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu malam (4/3/2026).
Baca Juga: Konflik Iran–Israel Ganggu Penerbangan, Turis Eropa Batal Liburan ke Bali
Menurutnya, keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mentah (storage) menjadi kendala utama untuk meningkatkan volume impor dalam waktu cepat. Karena itu, pemerintah kini mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan energi baru.
“Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami mau buat sekarang storage,” jelasnya.
Bahlil mengatakan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah tersebut juga telah dilaporkan kepada Presiden. Kepala negara pun memberikan arahan agar proyek tersebut segera direalisasikan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kami butuh survival. Kalau kami bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” kata dia.
Sebelumnya, Kementerian ESDM memastikan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatera terus dipercepat. Pemerintah juga telah mengantongi calon investor untuk merealisasikan proyek strategis tersebut.
Bahlil menegaskan investor untuk proyek storage tersebut sudah tersedia. Pendanaan akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri, namun tidak melibatkan investor dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Catat, Besok Hari Terakhir Pencairan BHR Driver Gojek, Maksimal Dapat Rp 1,6 Juta
“Investasinya dari, bisa dari, di-blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” tambahnya.
Ia juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut. Adapun fasilitas yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah. Dengan ketersediaan crude oil yang cukup, proses produksi bahan bakar minyak (BBM) dapat berjalan melalui kilang yang sudah ada.
Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah baru di Sumatera dapat dimulai pada tahun ini. Saat ini studi kelayakan atau feasibility study proyek tersebut masih berlangsung.
Saat ini standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Bahlil memastikan rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini sudah berada di atas batas minimum tersebut.
Namun secara kapasitas infrastruktur, fasilitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 25–26 hari, masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mencapai 90 hari cadangan energi strategis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bahlil Lahadalia
- Kementerian Esdm
- geopolitik minyak
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
- Ketahanan Energi
- Impor Minyak Mentah
- Cadangan BBM
- storage minyak
- diversifikasi pasokan minyak
- minyak Amerika Serikat
- cadangan energi nasional
- fasilitas penyimpanan minyak
- investasi storage minyak
- pasokan minyak Timur Tengah
- kapasitas kilang minyak













