Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan jaringan listrik menjadi kunci untuk menopang pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia.
Pemerintah menilai pembangunan transmisi dan smart grid harus mengikuti perkembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, termasuk kawasan industri, transportasi listrik, hingga ekonomi digital.
Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas Abdul Malik Sadat Idris mengatakan pembangunan infrastruktur selama 10-20 tahun terakhir lebih banyak berfokus pada konektivitas darat dan udara.
Ke depan, konektivitas listrik perlu mendapat perhatian lebih besar agar pasokan pembangkit terhubung dengan pusat permintaan.
“Tanpa ada jaringan sampai ke market, itu seperti ayam dan telur,” kata Abdul Malik dalam Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Energy Week 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Industri Suku Cadang Motor Listrik Disebut Berpeluang Tumbuh, Ini Syaratnya
Menurut dia, kebutuhan listrik akan terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi dan visi Indonesia Emas 2045. Target pertumbuhan ekonomi 6% dan pendapatan per kapita US$ 30.000 pada 2045 sangat bergantung pada perkembangan industri yang membutuhkan pasokan energi dan listrik yang memadai.
Karena itu, pemerintah perlu menurunkan kebutuhan listrik dari target nasional ke wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Sejumlah daerah di luar Jawa memiliki potensi sumber daya alam dan industri, tetapi belum seluruhnya terhubung dengan jaringan listrik.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, investasi transmisi diperkirakan mencapai sekitar Rp563 triliun atau US$45 miliar. Pemerintah juga mengkaji dukungan pembiayaan, termasuk melalui skema public service obligation (PSO), agar pembangunan jaringan listrik dapat dipercepat.
"Pembiayaan grid ini bisa segera sama-sama cepatnya dengan pembangunan jalan tol," ujar Abdul Malik.
Penguatan jaringan juga diperlukan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan listrik yang semakin kompleks. Ketua Umum Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) Arsyadany G. Akmalaputri mengatakan kebutuhan industri bukan hanya semakin besar, tetapi juga lebih beragam dan dinamis.
Karena itu, sistem kelistrikan perlu dikembangkan menjadi lebih cerdas dan fleksibel, termasuk melalui smart grid, integrasi energi terbarukan, serta teknologi penyimpanan energi.
Baca Juga: RI Butuh Investasi Rp 8.841,3 Triliun untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 7,5% di 2027
Dalam RUPTL 2025-2034, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), termasuk 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW sistem penyimpanan energi.
Kebutuhan listrik yang lebih andal juga semakin penting seiring pertumbuhan infrastruktur digital. Kapasitas data center Indonesia tercatat sekitar 370 megawatt (MW) pada 2025.
Pemerintah dan pelaku industri pun didorong memperkuat kolaborasi dalam pengembangan kelistrikan, penyimpanan energi, dan infrastruktur digital agar pertumbuhan kapasitas energi sejalan dengan kebutuhan industri.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus IEE Series - Energy Week 2026 yang berlangsung 2-5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kegiatan ini mempertemukan sektor kelistrikan, baterai dan penyimpanan energi, serta infrastruktur digital dalam satu rangkaian pameran dan forum industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














