kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Bea Masuk 0% LPG Buka Peluang Utilisasi Industri Plastik Tembus 90%


Minggu, 28 Juni 2026 / 14:38 WIB
Bea Masuk 0% LPG Buka Peluang Utilisasi Industri Plastik Tembus 90%
ILUSTRASI. Fajar Budiono, Sekretaris jenderal Inaplas (DOK/PRIBADI)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut positif kebijakan pemerintah yang membebaskan bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) menjadi 0% untuk bahan baku petrokimia.

Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan pasokan bahan baku sekaligus membuka peluang peningkatan utilisasi industri plastik.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan, pembebasan bea masuk tersebut merupakan kebijakan baru yang memungkinkan industri mulai memanfaatkan LPG sebagai bahan baku alternatif selain nafta.

Baca Juga: B50 Bakal Diresmikan 1 Juli, Kementerian ESDM Sebut Ada Masa Transisi Tiga Bulan

"Yang dibebaskan bea masuk ini adalah LPG untuk bahan baku petrokimia, bukan untuk energi. Selama ini sebenarnya teknologi kami sudah siap menggunakan LPG, tetapi secara keekonomian belum masuk karena masih dikenakan bea masuk," ujar Fajar kepada Kontan, Minggu (28/6/2026).

Menurut dia, industri petrokimia selama ini masih bergantung pada nafta. Di tengah terbatasnya pasokan nafta dari Timur Tengah, LPG menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan baku produksi.

Fajar mengatakan, fasilitas produksi yang dimiliki industri saat ini telah dirancang untuk dapat menggunakan LPG sebagai substitusi nafta sekitar 30%-40%.

Dengan kebijakan bea masuk 0%, pelaku industri kini dapat mulai menjalin kontrak komersial dengan pemasok LPG. Ia memperkirakan pasokan LPG sebagai bahan baku petrokimia dapat mulai masuk ke Indonesia pada Agustus hingga November 2026.

"Kami berharap ini dapat memperkuat ketahanan pasokan bahan baku petrokimia sehingga industri menjadi lebih fleksibel dalam menentukan feedstock yang paling ekonomis," katanya.

Ia menambahkan, bertambahnya pilihan bahan baku juga berpotensi meningkatkan utilisasi industri plastik hingga di atas 90%, meski realisasinya tetap dipengaruhi kondisi pasar dan persaingan dengan produk impor.

"Kalau bahan bakunya lebih banyak tentu utilisasi bisa meningkat. Namun nanti tetap kami hitung keekonomiannya dan bagaimana persaingan dengan produk impor," ujarnya.

Fajar juga menilai kebijakan tersebut tidak serta-merta membuat harga produk plastik turun. Menurutnya, industri akan memilih kombinasi bahan baku yang paling efisien sesuai perkembangan harga LPG, nafta maupun kondensat di pasar internasional.

Sebelumnya, pemerintah menetapkan bea masuk 0% untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia sebagai bagian dari paket stimulus guna menjaga daya saing industri nasional di tengah ketidakpastian global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp 2,25 triliun melalui penurunan biaya produksi industri serta efek berganda terhadap perekonomian. 

Baca Juga: RISE Optimistis Produk Baru Dongkrak Marketing Sales Semester II-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×