kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Begini tanggapan pelaku usaha jika larangan ekspor ore nikel kadar rendah dipercepat


Minggu, 11 Agustus 2019 / 19:00 WIB
ILUSTRASI. Bijih nikel di peleburan milik Antam


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

Penolakan ini sebelumnya juga disampaikan oleh Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI). Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin mengatakan bahwa jika keputusan pemberhentian ekspor dikeluarkan dalam waktu dekat, maka akan banyak kerugian yang dialami penambang maupun pembuat smelter.

Meidy menyebut, banyak penambang yang tengah berinvestasi membangun smelter dengan sumber pendanaannya ditopang dari pemasukan ekspor bijih nikel. Alhasil, jika pelarangan dipercepat, maka pembangunan smelter bisa mangkrak.

Baca Juga: Smelter feronikel Ceria Nugraha Indotama mulai dibangun di Kolaka

Terlebih, adanya ketidakseimbangan antara pasokan nikel yang ditambang dengan smelter yang beroperasi di dalam negeri akan berimbas pada keekonomian harga yang menjadi tidak berimbang. "Harga ekspor dan harga lokal kan nanti mati. Terjadi kartel, ada yang menguasai harga dan kita tidak sanggup," terangnya.

Di sisi lain, perusahaan tambang mineral plat merah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga akan terkena imbas jika rencana percepatan larangan ekspor ini jadi diberlakukan. Sebab, menurut Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo, hingga saat ini pihaknya masih melakukan ekspor ore nikel kadar rendah.

Baca Juga: Progres Proyek Smelter Wajib Mencapai 30% Tahun Ini

Arie bilang, hingga akhir Agustus ini, Antam ekspor ore nikel kadar rendah Antam diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. "Kami masih ekspor, sampai dengan Agustus sekitar 2,7 juta ton," ujarnya.




TERBARU

[X]
×