Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri pusat perbelanjaan (mal) di Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah terbatasnya penambahan pasokan baru. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) mencatat, okupansi mal nasional sepanjang tahun ini mencapai kisaran 75%.
Meski di Jakarta tak ada tambahan mal baru sejak awal tahun, Ketua Umum HIPPINDO Budihardjo Iduansjah menyebut pasar mal masih kuat.
“Kalau di Jakarta mungkin karena sudah penuh. Tapi mal tetap menjadi destinasi orang untuk makan, meeting, atau sekadar bersosialisasi. Bahkan brand yang awalnya hanya online pun tetap cari ruang di mal untuk memperkuat promosi,” ujar Budi kepada Kontan, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Ini Sektor yang Diuntungkan dari Kemunculan Rojali dan Rohana di Pusat Perbelanjaan
Menurutnya, mal masih memiliki potensi besar asalkan traffic terus dijaga. Kehadiran pengunjung, baik dari turis asing maupun domestik, menjadi faktor penentu.
“Fenomena orang datang tapi tidak beli itu masih bagus. Artinya mal tetap ramai, terutama di akhir pekan,” katanya.
Pun dari sisi keterisian (okupansi), Budi bilang masih relatif stabil. Rata-rata tingkat okupansi mal nasional berada di kisaran 75%–80%. Namun capaian ini bervariasi tergantung jenis mal. Tingkat okupansi mal premium bisa 95%–100%, sementara mal kelas bawah hanya sekitar 50%,.
Menariknya, ia menegaskan tidak ada penurunan okupansi dibandingkan tahun lalu. Salah satu penopangnya adalah masuknya investasi asing. Budi bilang banyak merek luar negeri resmi yang datang buka toko di Indonesia. Meski tenant lokal ada yang melemah, mal masih terselamatkan oleh investasi asing.
Baca Juga: Jakarta akan Naikkan Tarif Parkir dan ERP, Begini Respons Hippindo
Adapun kinerja tenant dalam mal menunjukkan tren beragam. Budi menyebut segmen olahraga, kecantikan, dan kesehatan mencatatkan pertumbuhan positif. Maklum, segmen-segmen ini menunjukkan tren yang positif di masyarakat.
Nah, penurunan tercatat di departemen store yang secara konsep masih konvensional.
“Department store kuno cenderung turun. Sebaliknya, supermarket kelas atas justru naik,” kata Budi.
Dengan kata lain, mal dengan pasar menengah ke atas masih berhasil tumbuh, sementara mal dengan pasar menengah ke bawah memang cenderung lesu.
Tantangan daya beli masyarakat menengah bawah memang menjadi tantangan tersendiri. Maka dari itu, ia berharap pemerintah bisa mendorong stimulus macam bantuan langsung tunai atau insentif pajak untuk meringankan beban masyarakat dan menggerakkan belanja.
Di samping itu, Budi melihat potensi besar industri mal jika pemerintah bisa mengurangi kebocoran belanja ke luar negeri. Ia memperkirakan sekitar Rp 150 triliun belanja masyarakat Indonesia masih mengalir ke luar negeri setiap tahun, mulai dari fesyen, obat, hingga gadget.
“Kalau spending ini bisa ditarik ke dalam negeri, akan sangat membantu peritel dan menggerakkan ekonomi,” tandasnya.
Selanjutnya: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat sampai 4 September 2025, Ada Beli 1 Gratis 1
Menarik Dibaca: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat sampai 4 September 2025, Ada Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News