Reporter: Noverius Laoli | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Perum Bulog menambah jumlah Rumah Pangan Kita (RPK) sebagai motor penggerak dalam menjual komoditas pangan. Hingga awal tahun ini, jumlah RPK sudah mencapai 8.460 unit yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
RPK merupakan gerai penjualan produk-produk Bulog yang sebagian besar bekerjasama dengan masyarakat.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog Imam Subowo mengatakan, sebagai upaya mengembangkan sayap bisnis komersial, pihaknya akan memanfaatkan RPK yang sudah ada saat ini.
Selain itu, tahun ini, Bulog juga akan terus menambah jumlah RPK. Targetnya akan ada 30.000 unit RPK. Bulog akan memasarkan produk-produknya ke RPK di seluruh Indonesia. "Penjulan utama di RPK adalah beras, tepung terigu, minyak goreng, daging dan lain-lain," papar Imam, Selasa (31/1).
Imam bilang, pengembangan RPK ini dilakukan bersamaan dengan penjualan komoditas Bulog secara langsung ke hotel, restoran, kafe, dan institusi pemerintah serta swasta. Nantinya, Bulog langsung masuk dan menjadi pemasok secara terus menerus.
Selain itu, kata Imam, Bulog akan memanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui BUMDes ini, Bulog akan menyerap produk-produk dari hulu. Bulog nantinya akan lebih mudah mendapatkan pasokan bahan baku langsung dari petani.
Produk yang dijual Bulog akan terus dikembangkan, seperti beras kita, akan ada bervariasi jenis seperti beras medium, premium, super kelapa, bahkan sampai pada produk-produk beras yang mengandung konten lokal. Dengan model bisnis seperti ini, Bulog tidak lagi hanya menjadi pelayan masyarakat miskin lewat penyaluran beras rakyat miskin (raskin) yang sebesar 3,2 juta ton pada tahun ini, tapi juga masyarakat umum.
"Jadi kami akan membangun standar kualitas produk yang dijual dengan merek produk Bulog," imbuhnya.
Untuk mencapai misinya itu, Bulog akan menginvestasikan Rp 2,3 triliun untuk pembangunan infrastruktur pascapanen yang bersumber dari Penyertaan Modal Pemerintah (PMN) dan dana internal. Pembangunan itu nantinya memakai 22 drying centre, 17 milling, dan 80 silo atau instalasi penyimpanan beras untuk menurunkan susut pascapanen, meningkatkan kuantitas serapan gabah, dan meningkatkan kualitas hasil panen gabah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












