Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan kendaraan listrik di Indonesia semakin ketat seiring pertumbuhan permintaan kendaraan energi baru. Di tengah kondisi tersebut, PT BYD Indonesia mencatat penjualan sekitar 47.700 unit dan menguasai lebih dari 37% pangsa pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) yang menjadi fokus perseroan.
Penguatan posisi BYD berlangsung seiring meningkatnya penetrasi kendaraan listrik nasional dan semakin banyaknya merek asal China yang masuk serta memperluas bisnisnya di pasar otomotif Indonesia.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sebanyak 17 merek China membukukan penjualan wholesale 78.662 unit sepanjang semester I 2026.
Angka tersebut meningkat 73,4% secara tahunan. Pertumbuhan itu turut mendorong pangsa pasar gabungan merek China menjadi sekitar 18% pada paruh pertama 2026, naik dari sekitar 12% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Marketing PT BYD Indonesia Pramita Sari mengatakan, pertumbuhan kendaraan elektrifikasi di Indonesia mencerminkan perubahan pola mobilitas masyarakat.
Baca Juga: Tingkatkan Efisiensi Operasional, Industri Hotel Mulai Andalkan Kecerdasan Buatan
Menurutnya, kenaikan biaya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil serta kebutuhan terhadap kendaraan yang lebih efisien menjadi sejumlah faktor yang mendorong masyarakat beralih ke kendaraan elektrifikasi.
"Karena itu elektrifikasi bukan lagi pilihan. Itu adalah sebuah masa depan mobilitas," kata Pramita, dikutip Jumat (11/9/2026).
Pramita mengatakan, BYD sejak awal mengembangkan konsep Green Dream dengan membangun ekosistem energi yang mencakup efisiensi energi, penyimpanan energi, hingga pemanfaatan energi baru pada kendaraan.
Secara nasional, perkembangan kendaraan elektrifikasi juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pangsa pasar kendaraan listrik yang pada 2021 masih berada di kisaran 1% kini telah meningkat hingga lebih dari 20%.
Pertumbuhan tersebut membuka peluang bagi BYD untuk memperluas penetrasi pasar, termasuk ke berbagai daerah di Indonesia. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang menjadi fokus BYD karena menunjukkan pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik.
Baca Juga: Moskow Membuka Pintu Pariwisata bagi Wisatawan Indonesia
BYD mencatat sekitar 12.000 keluarga di Jawa Barat telah menggunakan kendaraan BYD. Jumlah tersebut disebut setara dengan sekitar 12% pangsa kendaraan listrik di provinsi tersebut pada 2026.
"Dua model yang disebut menjadi pilihan konsumen Jawa Barat adalah BYD Atto 1 dan BYD M6," ujar Pramita.
Untuk mendukung pertumbuhan pasar, BYD juga terus memperluas jaringan distribusinya. Saat ini, jaringan BYD secara nasional telah mencapai lebih dari 130 titik.
Khusus di Jawa Barat, BYD telah mengoperasikan 20 lokasi dan menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 31 lokasi.
Dari sisi pengembangan produk, BYD mengandalkan dua teknologi utama dalam ekosistem kendaraan energi barunya, yakni kendaraan listrik berbasis baterai atau electric vehicle (EV) dan teknologi Dual Mode (DM).
"Two technologies, one ecosystem, one purpose," ujarnya.
Salah satu lini kendaraan yang terus dikembangkan adalah keluarga BYD M6. Setelah menghadirkan M6 EV dan M6 DM, BYD memperkenalkan New BYD M6 EV untuk konsumen Jawa Barat dengan jarak tempuh hingga 405 kilometer.
Baca Juga: Industri Elektronika Kian Agresif, Ekspor Midea dari Indonesia Tembus 2 Juta Unit
BYD menyebut model tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan keluarga Indonesia. Hingga kini, keluarga BYD M6 telah dipercaya oleh lebih dari 28.000 pelanggan di Indonesia.
Sementara itu, BYD M6 DM disebut telah memimpin penjualan di segmen DM selama tiga bulan berturut-turut.
Di sisi lain, BYD juga memperkuat basis bisnisnya melalui pembangunan fasilitas produksi kendaraan energi baru di Subang, Jawa Barat. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari strategi BYD untuk membangun basis produksi kendaraan energi baru di Indonesia.
Perluasan jaringan distribusi serta pembangunan fasilitas produksi tersebut menjadi bagian dari strategi BYD untuk meningkatkan penetrasi kendaraan energi baru di Indonesia. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan mendukung percepatan transisi menuju mobilitas rendah emisi.
"Make in Indonesia for Indonesia. Towards a greater future," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














