kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.892   10,00   0,06%
  • IDX 6.308   -66,09   -1,04%
  • KOMPAS100 824   -11,57   -1,38%
  • LQ45 626   -7,81   -1,23%
  • ISSI 218   -1,95   -0,89%
  • IDX30 350   -4,33   -1,22%
  • IDXHIDIV20 426   -3,69   -0,86%
  • IDX80 94   -1,29   -1,35%
  • IDXV30 118   -0,77   -0,65%
  • IDXQ30 111   -1,11   -0,99%

China kekurangan pasokan produk perikanan


Rabu, 29 September 2010 / 18:57 WIB


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Pesatnya kemajuan ekonomi China ternyata berdampak pada naiknya konsumsi negara tersebut untuk sektor makanan terutama produk perikanan. Thomas Darmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menyebutkan, kebutuhan China saat ini sulit dipenuhi oleh negaranya sendiri.

“Untuk udang saja, China membutuhkan 1 juta ton,” kata Thomas yang sudah mengunjungi pusat pengolahan ikan di China beberapa waktu lalu. Jumlah kebutuhan China yang kosong itu menurut Thomas sulit dipenuhi dari Indonesia yang hanya memiliki produksi 380.000 ton saja.

Konsumen China juga membutuhkan ikan nila, kepiting, tuna, kerapu, rumput laut dan juga produk perikanan lainnya. Sayangnya, Indonesia belum bisa sepenuhnya memanfaatkan pasar ke China tersebut karena masih banyaknya masalah di dalam negeri terutama di sektor produksi. Khusus udang misalkan, Indonesia masih dihadapi masalah virus yang membuat produksi merosot.

Thomas bilang, salah satu cara untuk memanfaatkan potensi pasar China tersebut adalah meningkatkan produksi udang dan produk perikanan lainnya yang bisa dikirim ke China. Pasalnya, negara itu saat ini membutuhkan suplai ikan untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Sementara itu, untuk rumput laut, Indonesia sudah menguasai pasar di China karena tidak banyak negara yang menghasilkan rumput laut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×