Reporter: Vina Elvira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mulai mengantisipasi potensi dampak El Nino terhadap produktivitas perkebunan kelapa sawit.
Perusahaan sendiri memiliki dua regional perkebunan di Sumatera, yakni Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Selatan (Sumsel).
VP Corporate Secretary CSRA Iqbal Prastowo mengungkapkan di tengah fenomena El Nino yang terjadi di beberapa wilayah, regional Sumut masih menerima curah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi, sehingga dampaknya belum dirasakan.
“Sementara itu, regional Sumsel telah memasuki musim kemarau. Namun dengan perencanaan yang matang, kami masih dapat mempertahankan volume produksi kebun di level yang aman," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Aktivitas Tambang Ilegal Masih Marak, IMEF Dorong Penindakan Tegas
Ia menyebut kondisi El Nino saat ini memang belum memberikan dampak signifikan terhadap produksi kebun. Dampak dari kekeringan biasanya baru terlihat pada produksi 12 hingga 24 bulan kemudian.
Karena itu, CSRA mulai memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga produktivitas tanaman hingga 2027. Salah satunya dari sisi pengelolaan air dengan mengoptimalkan tata kelola air di kebun dan pabrik melalui pemeliharaan parit dan pintu air serta pemanfaatan embung atau cadangan air di titik-titik yang diperlukan.
Sementara dari sisi agronomi, perusahaan menjaga kelembapan tanah melalui aplikasi tandan kosong di sekitar area tanam.
CSRA juga menyesuaikan jadwal dan dosis pemupukan dengan kondisi curah hujan serta menjaga tanaman penutup tanah atau cover crop untuk mengurangi penguapan.
Di tengah tantangan cuaca tersebut, CSRA masih mempertahankan optimisme terhadap prospek bisnis hingga akhir 2026.
Manajemen melihat harga crude palm oil (CPO) masih berpotensi bertahan pada level yang kuat di tengah dinamika geopolitik global.
"Perseroan tetap optimis terhadap prospek bisnis hingga akhir 2026. Harga CPO diproyeksikan masih bertahan di level yang kuat di tengah dinamika geopolitik global," kata Iqbal.
Baca Juga: Kadin Waspadai Perlambatan Industri di Tengah Tekanan Biaya Produksi
CSRA sendiri membidik penjualan sekitar Rp 2 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 300 miliar pada tahun ini.
Hingga semester I-2026 CSRA membukukan pendapatan Rp 1,23 triliun, tumbuh 65,1% secara tahunan. Namun, laba bersih pada periode yang sama tercatat Rp 131,6 miliar atau turun 7,4% dibandingkan semester I-2025.
Dengan capaian tersebut, realisasi pendapatan CSRA telah mencapai sekitar 61,5% dari target tahunan. Sementara laba bersih baru mencapai sekitar 43,9% dari target Rp 300 miliar.
“Hingga kini, kinerja Perseroan masih bergerak sesuai dengan rencana, dan kami akan senantiasa menjaga efisiensi biaya untuk mengantisipasi tekanan beban operasional yang mungkin muncul," ujarnya.
Baca Juga: YLKI Desak Pemerintah Atur Label Peringatan Gula, Garam, dan Lemak
Untuk menopang kinerja pada semester II-2026, perseroan mengoptimalkan utilisasi tiga pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi. Salah satu caranya dengan meningkatkan pembelian tandan buah segar (TBS) dari pihak eksternal.
Dengan strategi tersebut, CSRA berupaya menjaga volume produksi dan utilisasi pengolahan pada sisa tahun berjalan, sekaligus mempertahankan kinerja di tengah potensi tekanan operasional akibat kondisi cuaca.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














