Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) masih optimistis terhadap prospek industri kelapa sawit hingga akhir 2026. Perusahaan menilai harga crude palm oil (CPO) masih berpotensi tetap tinggi di tengah dinamika geopolitik global.
Direktur CSRA, Seman Sendjaja mengungkapkan sejak pandemi Covid-19 hingga saat ini, industri sawit justru termasuk sektor yang relatif diuntungkan oleh kondisi global. Hal ini tercermin dari pergerakan harga CPO yang cenderung terus menguat.
Sebelum pandemi Covid-19 harga sawit cenderung bergerak pada kisaran US$ 300 hingga US$ 500 per ton. Namun pasca pandemi, harga CPO justru mengalami kenaikan.
Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Targetkan Penjualan Tembus Rp 2 Triliun pada 2026
“Di 2020 zaman Covid-19 harga malah naik, habis itu di tahun 2021 ada perang Ukraina, harga juga naik. Dan dengan perang Iran ini pun sebenarnya efeknya bisa berbeda, harganya naik juga sebenarnya,” ungkap Seman, dalam Paparan Publik, Rabu (20/5/2026).
Ia melanjutkan, kondisi geopolitik global memang bukan sesuatu yang diharapkan. Namun di sisi lain, ketidakpastian global berdampak terhadap kenaikan harga komoditas, termasuk CPO.
Dengan kondisi tersebut, manajemen tetap optimistis terhadap kinerja bisnis tahun ini. CSRA menargetkan penjualan dapat menembus Rp 2 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 300 miliar. “Selama harga CPO naik, maka itu akan langsung translate ke bottom line,” katanya.
Meski demikian, perusahaan mengakui tetap ada sejumlah tantangan yang membayangi industri sawit, terutama terkait kenaikan biaya operasional.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah kenaikan harga pupuk. Sebab, pupuk masih menjadi komponen biaya terbesar dalam operasional perkebunan sawit.
Seman menjelaskan, untuk tahun ini, dampak dari kenaikan harga pupuk masih relatif terkendali karena kebutuhan pupuk hingga semester II 2026 sudah diamankan sejak tahun lalu.
“Jadi to be honest, mungkin kalau impact pupuk itu tahun ini nggak akan kelihatan terlalu besar, tapi 2027 kemungkinan besar kami akan kena impact harga pupuk yang lebih tinggi,” jelasnya.
Baca Juga: Danantara Siapkan Dua Fase DSI untuk Awasi Harga Ekspor hingga Serap Devisa SDA
Selain pupuk, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar industri juga mulai dirasakan CSRA. Kenaikan tersebut berdampak pada biaya transportasi dan operasional alat berat, meskipun masih tidak sebesar kenaikan pupuk.
Di tengah tantangan tersebut, CSRA tetap menjaga strategi bisnis yang konservatif dan prudent. CSRA sejak awal fokus menjalankan bisnis sesuai regulasi pemerintah, termasuk dalam pembukaan lahan.
CSRA menilai kepatuhan terhadap regulasi menjadi salah satu faktor penting yang membuat operasional perusahaan tetap stabil di tengah berbagai isu tata kelola industri sawit.
“Kami tidak pernah kena kasus kawasan hutan, karena memang kami dari awal tidak pernah membuka areal di areal hutan. Jadi memang selalu areal yang kami buka ini adalah areal APL, atau Areal Penggunaan Lain,” tegasnya.
Selain itu, CSRA juga melihat peluang tambahan dari bisnis turunan sawit, salah satunya penjualan cangkang sawit yang kini memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Padahal sebelumnya cangkang sawit hanya dianggap limbah produksi. Kini, penjualan cangkang justru menjadi sumber tambahan pendapatan bagi CSRA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












