Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya meningkatkan cadangan energi nasional hingga 90 hari diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar serta investasi yang tidak sedikit.
Praktisi migas Hadi Ismoyo memperkirakan tambahan cadangan sekitar 70 hari perlu disiapkan agar target tersebut dapat tercapai. Dengan konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, tambahan volume cadangan yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar 112 juta barel.
“Cadangan 20 hari berarti kalau dipakai terus tanpa tambahan supply baru, maka dalam 20 hari itu akan habis,” ujar Hadi kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).
Saat ini cadangan BBM nasional diperkirakan berada di kisaran 20 hari. Menurut Hadi, meski jumlah tersebut belum ideal untuk standar ketahanan energi, kondisi tersebut masih relatif memadai karena Indonesia tidak sedang berada dalam situasi konflik dengan negara lain.
Baca Juga: Soal Storage Tambahan, Pertamina Masih Tunggu Instruksi Pemerintah
“Idealnya memang 90 hari, tetapi itu mahal sekali,” katanya.
Untuk mencapai tambahan cadangan sekitar 112 juta barel tersebut, Hadi memperkirakan kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan setara dengan sekitar 56 unit floating storage offloading (FSO) dengan kapasitas masing-masing sekitar 2 juta barel.
Dengan asumsi biaya sewa FSO sekitar US$ 200.000 per hari, total biaya sewa yang harus disiapkan dapat mencapai sekitar US$ 11,2 juta per hari atau sekitar US$ 4,08 miliar per tahun.
Jika fasilitas penyimpanan tersebut dibangun baru, biaya investasi yang diperlukan akan jauh lebih besar. Harga satu unit FSO diperkirakan mencapai sekitar US$ 400 juta, sehingga total kebutuhan investasi untuk sekitar 56 unit dapat mencapai sekitar US$ 22,4 miliar dengan waktu pembangunan sekitar 36 bulan.
Selain menggunakan fasilitas penyimpanan terapung, pembangunan tank farm di darat juga menjadi alternatif yang relatif lebih murah. Namun opsi ini memerlukan ketersediaan lahan yang luas serta proses pengadaan lahan yang kerap memakan waktu.
Menurut Hadi, melihat besarnya kebutuhan investasi tersebut, peningkatan kapasitas cadangan energi nasional secara bertahap mungkin lebih realistis untuk dilakukan.
Ia menilai peningkatan cadangan dari sekitar 20 hari menjadi 30 hari terlebih dahulu dapat menjadi langkah awal, terutama dengan mempertimbangkan keterbatasan ruang fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Hadi juga menyebut salah satu opsi untuk merealisasikan pembangunan fasilitas penyimpanan energi adalah melalui kerja sama dengan pihak swasta, sehingga tidak seluruh kebutuhan investasi harus ditanggung oleh pemerintah.
Menurutnya, skema kolaborasi tersebut dapat membantu mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan energi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap anggaran negara.
Sebelumnya, pemerintah tengah mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatera. Proyek strategis tersebut juga disebut telah mengantongi calon investor untuk mendukung pembiayaannya.
Baca Juga: Bahlil: Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Lebaran, Cek Daftar Terbarunya
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan investor untuk pembangunan storage tersebut sudah tersedia. Sumber pendanaan akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri, namun tidak melibatkan investor dari Amerika Serikat.
“Investasinya bisa di-blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu malam (4/3/2026).
Bahlil juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut. Fasilitas yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah sehingga pasokan crude dapat langsung diolah di kilang yang sudah ada untuk menghasilkan BBM.
Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah baru di Sumatera dapat dimulai pada tahun ini. Saat ini studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut masih berlangsung.
Saat ini standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Bahlil memastikan rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini sudah berada di atas batas minimum tersebut.
Namun secara kapasitas infrastruktur, fasilitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 25–26 hari. Angka tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mencapai 90 hari cadangan energi strategis.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai merealisasikan rencana diversifikasi impor minyak mentah dengan mendatangkan pasokan dari Amerika Serikat secara bertahap guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Bahlil mengungkapkan impor minyak mentah dari AS saat ini sudah mulai berjalan, meski volumenya masih terbatas. Hal ini disebabkan kapasitas fasilitas penyimpanan dalam negeri yang masih terbatas.
“Sekarang sudah mulai jalan, tapi bertahap. Tidak bisa sekaligus karena daya simpanan kita belum cukup,” ujar Bahlil.
Menurutnya, keterbatasan kapasitas storage menjadi kendala utama dalam meningkatkan volume impor minyak mentah dalam waktu cepat. Karena itu pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan energi baru.
“Masalah kita sekarang adalah di storage. Makanya kami mau buat sekarang storage,” katanya.
Bahlil juga menyampaikan rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Kalau tidak kita akan terus bergantung,” tandasnya.
Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Ganggu Ekspor Mobil, TMMIN Waspada
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












