kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,55   2,12   0.24%
  • EMAS1.333.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dihadang pandemi, industri mamin dan logam dasar masih bertaji


Kamis, 23 Juli 2020 / 13:49 WIB
Dihadang pandemi, industri mamin dan logam dasar masih bertaji
ILUSTRASI. Aktivitas produksi di industri logam


Reporter: Agung Hidayat, Amalia Nur Fitri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) serta industri logam dasar masih memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor pada sektor manufaktur. Kedua industri tersebut masing-masing menyumbang sebesar US$ 13,73 miliar dan US$ 10,87 miliar sepanjang semester I-2020.

Kedua sektor unggulan ini mampu menunjukkan geliatnya menembus pasar internasional di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat ekspor Indonesia pun masih positif. 

"Industri mamin merupakan salah satu sektor yang memiliki demand tinggi ketika pandemi Covid-19. Sebab, masyarakat perlu mengonsumsi asupan yang bergizi untuk meningkatkan imunitas tubuhnya dalam upaya menjaga kesehatan," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (23/7)..

Baca Juga: Kemenperin: Ekspor manufaktur Indonesia di semester I-2020 capai US$ 60,76 miliar

Menperin mengungkapkan, industri mamin juga sebagai sektor usaha yang mendominasi di tanah air, terutama industri kecil menengah (IKM). Hal ini yang menjadi tumpuan bagi berputarnya roda ekonomi nasional. 

Selain itu, hal tersebut juga sesuai aspirasi pada peta jalan Making Indonesia 4.0. Kemenperin pun menargetkan, industri mamin akan mampu merajai di wilayah Asia Tenggara.

Agus menyebutkan, sudah banyak produk mamin produksi Indonesia digemari konsumen mancanegara. Misalnya, mi instan Indonesia yang sangat diminati oleh negara-negara di Afrika. Kementerian Perindustrian juga terus mendorong perluasan pasar dan diversifikasi produk mamin yang berorientasi ekspor.

Sementara itu, kinerja gemilang yang dicatatkan oleh industri logam dasar merupakan bukti berjalannya kebijakan hilirisasi di sektor tersebut. Artinya, dengan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam kita, hasilnya adalah penerimaan devisa dari ekspor. Selain itu, multiplier effect lainnya, aktivitas industri dapat menyerap tenaga kerja.

Apalagi, industri logam dikategorikan sebagai mother of industry karena produk logam dasar merupakan bahan baku utama yang menunjang bagi kegiatan produksi di sektor lain seperti industri otomotif, maritim, elektronik, dan sebagainya. Kontribusi ini yang membuat industri logam dasar dinilai berperan menjadi tulang punggung bagi perekonomian nasional.

"Kami sedang mendorong industri logam siap memasuki era industri 4.0 dengan menerapkan teknologi digital. Tujuannya agar bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas secara lebih efisien. Jadi, industri 4.0 bukan untuk mengurangi tenaga kerjanya, tetapi memacu added value manusianya, papar Agus. Selain itu, industri logam dasar punya orientasi pasar ekspor yang potensial sehingga produknya perlu didorong go internasional," sambungnya.

Baca Juga: Kemenperin sokong industri modifikasi kendaraan

Industri pengolahan nonmigas masih konsisten menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Juni tahun 2020, total nilai pengapalan produk sektor manufaktur menembus hingga US$ 60,76 miliar atau menyumbang 79,52% dari keseluruhan angka ekspor nasional yang mencapai US$ 76,41 miliar.

Kemenperin mengatakan akan menjaga momentum saat ini dengan percepatan stimulus sektor manufaktur pada semester II-2020. Percepatan stimulus ke sektor manufaktur dapat mendorong industri berorientasi ekspor untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Hal tersebut dilakukan untuk memanfaatkan potensi permintaan pada negara mitra dagang Indonesia.

Adapun sektor-sektor yang mengalami kenaikan ekspor secara signifikan pada semester I 2020 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain adalah industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya yang naik sebesar 16,6% dengan nilai ekspor mencapai US$ 578,3 juta. 

Berikutnya, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional (naik 15,2% dengan nilai ekspor US$ 317 juta), serta industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (naik 15% dengan nilai ekspor US$ 15,92 juta).

Selanjutnya, industri furnitur, naik 12,8% dengan nilai ekspor US$ 1 miliar. Indonesia kini berada di peringkat ke-8 negara pengekspor furnitur terbesar ke Amerika Serikat. Total nilai pengapalan produk furnitur Indonesia ke AS pada 2019 tercatat sebesar US$ 1,04 miliar atau naik 29,1% dibanding tahun 2018 yang mencapai US$ 808,77 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×