Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Energi Pangan (SEP), perusahaan di Bawah Triputra Grup memperkuat pengembangan agribisnis jagung di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan membangun ekosistem yang menghubungkan petani, penyedia sarana produksi, pembeli hasil panen, dan perguruan tinggi.
Melalui program Crop Edu Center (CEC), SEP mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas panen sekaligus memperluas akses pasar bagi petani.
Upaya ini juga ditujukan untuk memperkuat rantai pasok jagung melalui pendampingan budidaya hingga pemasaran hasil panen.
Salah satu perkembangan yang dicatat program CEC adalah peningkatan volume produksi jagung di wilayah pendampingan dari sekitar 800 ton pada 2022 menjadi 10.300 ton pada pencatatan 2026. Artinya, volume produksi yang dilaporkan meningkat sekitar 12,9 kali lipat dalam periode tersebut.
Baca Juga: Gempa Sumba Barat Daya Tak Berpotensi Tsunami, BMKG: Waspadai Bangunan Retak
"Pengembangan jagung perlu ditopang kemampuan petani menghasilkan panen yang produktif, berkualitas, dan terhubung dengan pasar,” ujar Wesly Altie Hasibuan, Sustainability & Partnership Department Head PT Sumber Energi Pangan dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Sejak 2022, program CEC di Sumba Barat Daya telah menjangkau 1.010 petani melalui pelatihan, dengan 835 petani binaan dan 79 Farmer Champion. Program ini juga melibatkan 241 perempuan serta 313 petani muda berusia 19–39 tahun.
Dari sisi bisnis, CEC mengintegrasikan pelatihan budidaya, penanganan pascapanen, pendampingan petani, akses sarana produksi, serta akses pasar. PT Seger Agro Nusantara (SAN) berperan sebagai pembeli hasil panen atau offtaker, sehingga petani memiliki jalur pemasaran untuk hasil produksi mereka.
Model tersebut diharapkan membantu petani memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan pasar sekaligus memperkuat pasokan jagung bagi pelaku usaha. Namun, peningkatan volume produksi perlu diikuti penguatan kualitas, kesinambungan pasokan, dan penyerapan hasil panen agar dapat mendukung keberlanjutan usaha tani.
Pada 2026, jaringan program CEC mencakup 17 pusat di NTT, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Di Sumba Barat Daya, pelaksanaannya melibatkan CEC Sinar Seger, Save the Children, CIS Timor, SAN, serta mitra penyedia input dan teknologi pertanian, yakni Syngenta, Bayer, Saprotan Utama, Terra Baru, dan Birufinery.
Baca Juga: Triputra Group Perkuat Rantai Pasok Jagung, Cakupan Lahan Capai 5.000 Hektare
SEP juga menjajaki kolaborasi dengan Universitas Katolik Weetebula (UNIKA Weetebula) untuk memperkuat penerapan teknologi dan penelitian pertanian yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Rangkaian kegiatan pada 13, 15, dan 16 Oktober 2026 melibatkan 20 mahasiswa dan dua dosen pendamping dalam pembelajaran lapangan di CEC. Peserta mempelajari penerapan irigasi tetes, berbagai jenis benih jagung, serta pembuatan dan penggunaan biochar dan mikoriza. Mereka juga berdiskusi dengan Farmer Champion dan mengenal aktivitas gudang, toko pertanian, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
Selain kunjungan lapangan, SEP bersama Save the Children menggelar kuliah umum yang diikuti sekitar 133 mahasiswa Program Studi Pertanian UNIKA Weetebula. Materi mencakup pertanian jagung yang adaptif terhadap perubahan iklim, ekosistem pasar, dan peluang agribisnis.
Dosen Program Studi Pertanian UNIKA Weetebula, Maria G. L. Wehangaru, berharap pembelajaran tersebut dapat diterapkan mahasiswa di lingkungan kampus maupun ketika memasuki dunia kerja.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Tradisi dan Kearifan Sumba di Desa Bakti BCA Prai Ijing
Ke depan, penjajakan kerja sama ini diarahkan pada pengembangan pembelajaran lapangan, lahan percontohan (demoplot), penelitian terapan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas keterlibatan generasi muda dalam rantai bisnis jagung, mulai dari budidaya, penyediaan sarana produksi, penanganan pascapanen, hingga pemasaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














