Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mencatatkan kenaikan kinerja operasional pada semester I-2026. Volume pemindahan batuan penutup (overburden), produksi batubara (coal getting) serta pengangkutan batubara (coal hauling) kompak menanjak pada separuh pertama tahun ini.
Kinerja operasional Samindo Resources masih mampu melaju di tengah tekanan yang mengimpit industri jasa pertambangan.
Pada periode setengah tahun 2026, performa industri jasa pertambangan tertekan oleh sejumlah faktor, terutama karena pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
MYOH belum merilis secara resmi laporan kinerja untuk semester I-2026. Corporate Secretary Samindo Resources, Ahmad Zaki Natsir memberikan gambaran bahwa estimasi volume overburden MYOH pada semester I-2026 sudah melebihi 17 juta bank cubic meters (bcm). Lebih tinggi dibandingkan capaian 14,8 juta bcm pada semester I-2025.
Baca Juga: Pendampingan Jadi Kunci Pengembangan UMKM Berbasis Komoditas Lokal
Zaki melanjutkan, estimasi volume coal getting MYOH sudah melebihi 2,7 juta ton pada semester I-2026. Pada periode yang sama, MYOH mengestimasi realisasi volume coal hauling sudah melebihi 11,8 juta ton .
Sebagai perbandingan, volume coal getting dan coal hauling MYOH pada semester I-2025 masing-masing tercatat sebanyak 2,4 juta ton dan 11,4 juta ton. "Estimasi volume produksi di semester pertama semua di atas target," ungkap Zaki saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (9/7/2026).
Zaki membeberkan, pertumbuhan kinerja operasional MYOH pada semester I-2026 terdorong oleh sejumlah faktor. Antara lain karena kondisi cuaca yang mendukung di lokasi pertambangan serta optimalisasi armada alat berat.
Hal tersebut mendukung kelancaran kegiatan pemindahan batuan penutup, pengambilan batubara, dan pengangkutan batubara. Di samping faktor teknis, hal penting lainnya adalah perusahaan tambang yang menjadi klien MYOH sampai saat ini termasuk yang tidak mengalami pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026.
"Cuaca tahun ini relatif cukup baik. Kami secara berkala melakukan komunikasi yang intens dengan klien sehingga hambatan-hambatan operasional dapat ditanggulangi. Kami juga menjaga tingkat ketersediaan alat berat serta meningkatkan produktivitasnya," terang Zaki.
Dengan dukungan dari sejumlah faktor tersebut, MYOH optimistis bisa mencapai target operasional pada tahun 2026.
Adapun, emiten jasa pertambangan yang sahamnya juga dimiliki oleh konglomerat Low Tuck Kwong ini membidik volume overburden sebanyak 34,5 juta bcm, coal getting 4,5 juta ton dan coal hauling sekitar 24 juta ton.
Guna mengejar target operasional dan mendukung agenda ekspansi, pada tahun ini MYOH menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 35,5 juta.
"Target (operasional) tahun 2026 masih sama. (Realisasi capex) belum keluar datanya," tandas Zaki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














