kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Koperasi Simpan Pinjam Jadi Penopang, Pengamat Terlalu Dini Sebut Kopdes Jadi Raksasa


Kamis, 09 Juli 2026 / 19:20 WIB
Koperasi Simpan Pinjam Jadi Penopang, Pengamat Terlalu Dini Sebut Kopdes Jadi Raksasa
ILUSTRASI. Tak Hanya di Desa, Koperasi Merah Putih Juga Hadir di Kota Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koperasi mencatat jumlah koperasi di Indonesia mencapai 224.256 unit hingga semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri dari lebih dari 75.000 Koperasi Desa (Kopdes), sekitar 72.000 koperasi konsumen, 31.000 koperasi produsen, 19.000 koperasi simpan pinjam (KSP), 11.000 koperasi jasa, 8.600 Koperasi Kelurahan Merah Putih, serta 5.400 koperasi pemasaran.

Menanggapi data tersebut, Pengamat Koperasi Rully Indrawan menilai jumlah koperasi kemungkinan telah memasukkan sekitar 83.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang tengah dibentuk pemerintah.

Menurutnya, sebelum hadirnya Kopdes Merah Putih, kontribusi koperasi terhadap perekonomian nasional sejatinya sudah cukup signifikan, terutama dalam mendukung pelaku usaha mikro dan kecil (UMK).

"Kontribusi koperasi secara umum cukup signifikan karena membantu sekitar 90% pelaku ekonomi nasional pada level usaha mikro dan kecil, terutama melalui penyediaan pembiayaan usaha," ujar Rully kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Namun, Rully menilai selama ini kontribusi koperasi masih sering diukur hanya berdasarkan sumbangannya terhadap produk domestik bruto (PDB). Padahal, koperasi tidak semata-mata merupakan unit bisnis, melainkan juga lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Ekonom Ingatkan Kopdes Merah Putih Jangan Hanya Kejar Target Jumlah

Menurutnya, ukuran keberhasilan koperasi seharusnya tidak hanya menggunakan indikator ekonomi makro, tetapi juga memperhatikan manfaat yang dirasakan oleh anggotanya.

"Indikator utamanya adalah tingkat kepuasan anggota. Paradigma pembangunan sendiri sudah bergeser, tidak hanya melihat PDB atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga indikator seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Apalagi koperasi di Indonesia sejak awal dibangun sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial," katanya.

Dari berbagai jenis koperasi yang ada, Rully mengakui koperasi simpan pinjam hingga saat ini masih menjadi jenis koperasi yang paling berkembang.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari ekosistem usaha koperasi simpan pinjam yang lebih matang dibandingkan jenis koperasi lainnya.

"Sejauh ini harus diakui yang lebih eksis adalah koperasi simpan pinjam, karena koperasi bentuk lain daya dukung ekosistem bisnisnya belum terlalu mendukung," ujarnya.

Adapun terkait target pemerintah menjadikan Kopdes Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi desa, Rully menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan program tersebut akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Menurutnya, klaim mengenai besarnya kontribusi Kopdes sebaiknya didukung indikator yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Masih terlalu pagi untuk mengatakan Kopdes akan lebih berperan dan berkontribusi besar. Itu harus dibuktikan dengan indikator yang terukur dan akuntabilitas yang bisa diuji," katanya.

Baca Juga: Kopdes Merah Putih Dibidik Dongkrak PAD Desa, Ribuan Unit Beroperasi Sudah Beroperasi

Rully mengaku mendukung harapan pemerintah agar Kopdes berkembang menjadi koperasi berskala besar. Meski demikian, ia belum sepenuhnya optimistis target tersebut dapat segera tercapai.

Ia menilai tantangan terbesar justru terletak pada tingkat kepercayaan masyarakat serta partisipasi anggota dalam menjalankan koperasi.

"Koperasi itu kuncinya ada pada partisipasi anggota. Kalau kepercayaan masyarakat belum terbentuk, akan sulit bagi koperasi berkembang," ujarnya.

Selain itu, Rully mengingatkan pemerintah agar lebih cermat dalam menyusun kebijakan terkait Kopdes Merah Putih. Menurutnya, mutu kebijakan serta cara pemerintah menyampaikan program kepada publik perlu diperbaiki agar tidak memunculkan persepsi negatif terhadap koperasi.

Ia menilai sejumlah kebijakan, seperti proses rekrutmen dan pembekalan manajer koperasi maupun penentuan lokasi bangunan serta fasilitas usaha, masih menuai kontroversi di tengah masyarakat.

"Pemerintah perlu menjelaskan posisi Kopdes sesuai kebutuhan dan nalar masyarakat. Hindari kebijakan yang justru mengundang kontroversi karena dapat meningkatkan sentimen negatif terhadap koperasi," tutupnya.

Baca Juga: Lokasi Tak Lazim Bayangi Pembangunan Kopdes Merah Putih di Tengah Keterbatasan Lahan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×