Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia mendorong semakin banyak pemilik kendaraan di Indonesia beralih menggunakan biodiesel B50.
Selisih harga yang jauh lebih murah dibandingkan solar nonsubsidi membuat sebagian pemilik mobil bahkan rela memodifikasi kendaraannya agar dapat menggunakan bahan bakar campuran sawit tersebut.
Pemerintah resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.
Kebijakan ini meningkatkan porsi minyak sawit dalam campuran bahan bakar menjadi 50% sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Harga BBM di Negara Tetangga Malaysia & Vietnam Lebih Murah
Percepatan implementasi B50 dilakukan setelah harga minyak dunia melonjak menyusul konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang pecah pada Februari lalu.
Kenaikan harga minyak global membuat harga solar nonsubsidi di Indonesia ikut terdongkrak hingga sekitar 46% sepanjang tahun ini.
Pada awal Juli, harga solar nonsubsidi mencapai Rp 21.150 per liter, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga biodiesel bersubsidi yang dipatok Rp 6.800 per liter.
Perbedaan harga tersebut membuat sejumlah pemilik kendaraan memilih mengonversi mobilnya agar kompatibel dengan biodiesel B50. Salah satunya dilakukan Arnoldus Yusuf, pensiunan berusia 58 tahun, yang memodifikasi Toyota Fortuner keluaran 2018 miliknya.
Proses modifikasi dilakukan di sebuah bengkel di Tangerang dengan biaya sekitar Rp 4 juta. Bengkel menambahkan cairan aditif untuk melindungi sistem bahan bakar dari korosi, memasang water separator, serta melakukan pemrograman ulang komputer kendaraan agar sistem mesin tetap bekerja normal saat menggunakan biodiesel.
Baca Juga: Pemerintah Beri Sinyal Turunkan Harga BBM Non-Subsidi, Cek Harga Pertamax Cs Terkini
Pemilik bengkel, Aong Ulinnuha, mengaku permintaan jasa modifikasi kendaraan meningkat signifikan sejak penerapan B50.
Selain modifikasi awal, kendaraan yang menggunakan biodiesel juga membutuhkan perawatan lebih sering, terutama penggantian filter bahan bakar karena biodiesel menghasilkan endapan lebih banyak dibandingkan solar konvensional.
Di sisi lain, implementasi program B50 masih menghadapi tantangan. Upaya perdamaian di Iran mulai menekan kembali harga minyak dunia, sementara harga minyak sawit yang menjadi bahan baku biodiesel tetap berada di level tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Meski demikian, pemerintah menilai program B50 sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi impor bahan bakar minyak.
Baca Juga: Pertamina Kerek Harga BBM Pertamax Turbo, Dex dan Dexlite, Ini Daftar Terbaru
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan terus meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit. "Kita akan terus lanjut. Jangan berhenti di B50, mungkin kita bisa mencapai B60," ujar Prabowo saat peluncuran resmi program B50, Kamis (9/7).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














