kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.744   36,00   0,20%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Ekonom: Hilirisasi Sawit Buka Peluang UMKM Menembus Pasar Ekspor


Senin, 24 Agustus 2026 / 18:19 WIB
Ekonom: Hilirisasi Sawit Buka Peluang UMKM Menembus Pasar Ekspor
ILUSTRASI. Hilirisasi kelapa sawit dinilai membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses ke pasar ekspor. (ANTARA FOTO/AKBAR TADO)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hilirisasi kelapa sawit dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses ke pasar ekspor.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, potensi pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit di Indonesia masih sangat besar. Pelaku UMKM dapat mengembangkan beragam produk turunan sawit, mulai dari pangan atau oleofood, bahan kimia atau oleochemical, hingga bioenergi.

“Hingga saat ini program hilirisasi kelapa sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan. Perkembangan tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional mulai dari peningkatan harga TBS di tingkat petani, perluasan lapangan kerja, serta penciptaan efek ekonomi berantai yang lebih luas,” kata Eisha di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Baca Juga: Industri Suku Cadang Motor Listrik Disebut Berpeluang Tumbuh, Ini Syaratnya

Menurut dia, pengembangan UMKM berbasis sawit perlu diarahkan pada produk yang mampu memberikan nilai tambah lebih tinggi. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat masuk ke rantai nilai produk hilir.

“Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit,” ujarnya.

Eisha juga mendorong pelaku UMKM berbasis kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing dan berani masuk ke pasar internasional. Pasalnya, kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional saat ini masih relatif rendah, yakni sekitar 15%.

“Kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya sekitar 15% dan nilainya stagnan, tidak berkembang. Ke depan perlu ditingkatkan,” ungkapnya.

Menurut Eisha, komoditas kelapa sawit berpotensi menjadi salah satu sektor yang mendorong peningkatan kontribusi UMKM terhadap ekspor. Terlebih, sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Masih Jadi Pasar Produk Halal Terbesar, Industri Didorong Naik Kelas

Ia menilai keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global juga dapat mendorong transformasi usaha. Ketika masuk ke pasar internasional, baik sebagai eksportir maupun pemasok dalam rantai nilai global, UMKM akan dituntut memenuhi standar dan kualifikasi pasar global.

“Karena ketika UMKM masuk pasar global baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global. Hal itu akan mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi dan mendorong mereka naik kelas,” paparnya.

Eisha meyakini UMKM berbasis kelapa sawit memiliki peluang untuk memenuhi standar pasar global tersebut. Hal ini tercermin dari perkembangan hilirisasi sawit yang mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan.

Secara umum, hilirisasi sawit dapat meningkatkan nilai ekonomi produk sekitar tiga hingga 10 kali lipat. Sementara untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan sejumlah produk oleokimia, peningkatan nilai tambah bahkan dapat mencapai lebih dari 30 kali lipat.

Meski demikian, Eisha menilai dukungan pemerintah masih dibutuhkan untuk mendorong lebih banyak UMKM sawit berorientasi ekspor. Dukungan tersebut antara lain penguatan kapasitas keuangan, pemberian insentif, hingga bantuan teknis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Baca Juga: Adi Sarana Armada (ASSA) Raih Tambahan Kredit untuk Beli Armada Baru

“Tantangan menjadi eksportir cukup besar bagi UMKM. Terlebih, untuk menembus pasar global yang mana memiliki barrier cukup besar di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi dari UMKM,” ujarnya.

Selama ini pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit yang berorientasi ekspor. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat industri sawit nasional sekaligus mendorong pengembangan industri yang berkelanjutan.

Ke depan, pemerintah dinilai perlu memperkuat dukungan melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli atau potential buyer, serta fasilitasi business matching antara UMKM dengan mitra usaha di pasar global.

“Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, dan ITPC perlu lebih aktif melakukan pemetaan potensi pasar bagi UMKM ekspor,” pungkas Eisha.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×