kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.549.000   34.000   1,35%
  • USD/IDR 16.781   21,00   0,13%
  • IDX 8.934   74,42   0,84%
  • KOMPAS100 1.226   8,17   0,67%
  • LQ45 865   5,28   0,61%
  • ISSI 322   1,78   0,55%
  • IDX30 443   0,30   0,07%
  • IDXHIDIV20 516   -0,09   -0,02%
  • IDX80 136   0,92   0,68%
  • IDXV30 143   1,50   1,06%
  • IDXQ30 142   -0,22   -0,16%

Ekspansi TPPI terganjal utang ke Pertamina


Minggu, 10 Oktober 2010 / 10:35 WIB
Ekspansi TPPI terganjal utang ke Pertamina
Buah Alpukat atau Avokad


Reporter: Herlina KD | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Rencana ekspansi PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) nampaknya masih belum bisa terlaksana. Rencana pembuatan refinery (kilang minyak) untuk meningkatkan kapasitas produksi TPPI mash terhalang penyelesaian utang anak usaha PT Tuban Petrochemical Industries ini ke Pertamina.

Direktur Utama PT Tuban Petrichemical Industries Amir Sambodo mengatakan, tertundanya pembangunan refinery TPPI ini tidak lain dikarenakan perusahaan masih memiliki utang kepada Pertamina. "Proyek TPPI ini seharusnya sudah mulai berjalan tahun 2010, tapi tertunda karena terganjal utang dengan Pertamina," ujarnya.

Padahal sudah ada investor asing yaitu Samsung Petrochemical yang menyatakan minatnya untuk ikut serta dalam proyek ini. Samsung Petrochemical adalah anak perusahaan Samsung group yang bergerak di bidang petrokimia. Selama ini, Samsung masih mengimpor paraxylene sebanyak 1,8 juta ton per tahun untuk memproduksi purifiedtherapthalic acid (PTA). "Hingga saat ini Samsung masih berkomitmen untuk menunggu penyelesaian utang TPPI ke Pertamina dulu," kata Amir.

Amir mengaku, total utang TPPI kepada Pertamina sebanyak US$ 500 juta. "Dan sudah dicicil, sehingga saat ini sisa utang termasuk bunganya ke Pertamina sekitar US$ 375 juta," ujarnya.

Amir menambahkan, TPPI sudah lama merencanakan pembangunan refinery dengan nilai investasi mencapai US$ 500 juta. Pembangunan refinery ini dilakukan untuk menambah kapasitas produksi aromatik sebesar 250.000 ton per tahun.

Asal tahu saja, saat ini pabrik aromatik milik TPPI memiliki kapasitas produksi 550.000 ton per tahun. "Desainnya sudah selesai dibuat, tapi belum bisa mulai berjalan," ujar Amir kepada KONTAN pekan lalu. Amir menambahkan, dengan pembangunan refinery ini, nantinya TPPI bisa menghasilkan produk aromatik dua kali lipat dari yang saat ini ada.

Menurut Amir, Tuban Petro sudah menawarkan dua opsi penyelesaikan utang kepada Pertamina. Pertama, Pertamina ditawari untuk melakukan kontrak pembelian produk TPPI dalam jangka menengah, setidaknya selama lima tahun. "Dengan kesepakatan pembelian produk ini, maka TPPI akan bisa menghimpun dana untuk membayar utang kepada Pertamina," jelas Amir.

Opsi kedua, TPPI akan mengkonversi utangnya kepada Pertamina dalam bentuk saham. "Ini dulu sudah disepakati dan Pertamina akan menunjuk valuator independen untuk menghitung ini," kata Amir. Sayangnya, hingga saat ini Pertamina belum mau menandatangani Head of Agreementnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×