kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Emiten sawit optimis produksi CPO tahun ini naik


Senin, 13 Mei 2019 / 16:40 WIB
Emiten sawit optimis produksi CPO tahun ini naik

Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit masih berusaha bertahan. Meski harga sawit kurang baik dan juga dirundung kebijakan kampanye negatif oleh negara Uni Eropa

Meski demikian emiten-emiten sawit optimis produksi bisa naik meski menghadapi hal tersebut. Seperti misalnya PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)


Supriyadi Jamhir, Corporate Communications Department Head Dharma Satya Nusantara menjelaskan produksi CPO perusahaan akan naik karena makin banyaknya hasil perkebunan yang menghasilkan. "Serta adanya tambahan produksi dari kebun yangg diakuisisi Desember lalu," kata Supriyadi kepada Kontan.co.id, Selasa (13/5).

Volume penjualan diharapkan meningkat di atas 20%, karena adanya penambahan produksi dari PT Bima Palma Nugraha (BPN) dan Bima Agri Sawit (BAS) yang diakuisisi Desember 2018 lalu.

Sampai akhir Desember 2018, jumlah lahan tertanam DSNG mencapai 108,411 hektare, dengan lahan tertanam kebun inti mencapai 84.393 ha.

Kenaikan jumlah lahan tertanam tersebut disebabkan oleh bertambahnya areal kebun setelah DSNG melakukan pengambilalihan perusahaan perkebunan Bima Palma Group di Kalimantan Timur pada tanggal 12 Desember 2018 lalu. Dari jumlah tersebut, total kebun yang sudah menghasilkan sekitar 96.118 hektare, dengan usia rata-rata 9,3 tahun.

Supriyadi menjelaskan prospek industri CPO diperkirakan membaik dengan kebijakan mandatory biodiesel B20 september tahun lalu dan juga rencana penerapan B30 tahun ini.

"Pada tahun 2019 memang ada masalah dengan kampanye negatif produk sawit dari negara- negara Uni Eropa, tetapi diharapkan tidak akan mempengaruhi permintaan sawit, kata Supriyadi.Untuk saat ini ini perusahaan belum berencana menyasar pasar ekspor, karena selama ini masih dijual di pasar dalam negeri.

Dharma Satya Nusantara mencatat produksi Crude Palm Oil (CPO) pada kuartal I-2019 sebesar 129.000 ton, naik 61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyusul membaiknya produktivitas kebun dalam beberapa bulan terakhir ini dan adanya tambahan produksi CPO dari perusahaan yang diakuisisi Perseroan di akhir 2018.

Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo mengatakan, sejak semester II tahun lalu sampai dengan kuartal I tahun ini, yield kebun perusahaan sudah kembali ke pola produksi seperti dua tahun lalu, yang menunjukkan recovery dari musim kering berkepanjangan, ditambah lagi dengan adanya kontribusi kebun yang baru diakuisisi pada Desember 2018 sehingga produksi TBS Perseroan naik secara signifikan.

“Jumlah TBS yang diproduksi Perseroan pada kuarta I 2019 mencapai 512.000 ton, naik sebesar 73% dibandingkan kuartal I 2018 sebanyak 296.000 ton, termasuk tambahan produksi TBS yang berasal dari dua perusahaan perkebunan yang diakuisisi Perseroan, yang memberikan kontribusi sekitar 10%,” kata Andrianto Oetomo beberapa saat lalu.

Selanjutnya, volume penjualan CPO juga naik dua kali lipat menjadi 166.000 ton dibandingkan sebesar 82.000 ton pada kuartal I tahun lalu, seiring kenaikan produksi
ditambah dengan penjualan sisa inventory yang sempat tertahan tahun lalu akibat kongesti logistik kapal pengangkut CPO.

Meskipun terjadi peningkatan volume penjualan, harga rata-rata CPO Perseroan turun sebesar 20% dari Rp 7,7 juta per ton menjadi Rp 6,1 juta per ton, yang mengakibatkan nilai penjualan Perseroan pada kuartal I tahun ini mencapai Rp 1,37 triliun, naik sekitar 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari total penjualan tersebut, segmen usaha kelapa sawit memberikan kontribusi sebesar 82% atau sebesar Rp 1,13 triliun, naik 52% dibandingkan kuartal I 2018.

Tak hanya DSNG, emiten sawit PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) juga berencana untuk meningkatkan produksi CPO tahun ini. Tahun 2019 produksi Tandan buah segar (TBS) inti ditargetkan mencapai 250.000 ton. Atau naik dari periode tahun lalu sebesar 228.549 ton.

Sedangkan pada kuartal I-2019 baru tercapai 15% dari target atau senilai 40.049 ton. Untuk TBS Plasma dan third party ditargetkan mencapai 117.000 ton. Atau naik dari realisasi tahun 2018 sebesar 79.362 ton

Untuk produksi CPO di tahun 2019 mencapai 80.500 ton. Atau naik dari realisasi tahun 2018 mencapai 66.271 ton. Sampai kuartal I-2019 produksi CPO GZCO mencapai 48.109 unit atau baru mencapai 13% dari target.

Andrew Michael Vincent, Direktur GZCO menyampaikan ada dua sentimen negatif bagi industri CPO di tahun 2019. Mulai dari pengetatan ekspor CPO ke negara Uni Eropa dan juga harga CPO yang rendah. Rata-rata harga CPO pada kuartal I-2019 mencapai Rp 5.000 per kilogram (Kg). Sedangkan tahun lalu rata-ratanya Rp 7.000 per Kg.

Meski demikian Vincent berharap pemerintah Indonesia saat ini sudah cukup banyak membantu agar dapat membangkitkan industri CPO. Mulai dari negosiasi dan lobi pemerintah di level global serta aturan penggunaan biodiesel (B20) pada kendaraan.

"Harapannya tentu produk CPO bisa segera terserap di pasar dan kami harap dengan peningkatan itu bisa membantu kinerja kami," kata Vincent Jumat lalu (10/5).

Dengan peningkatan produksi tersebut ditargetkan penjualan bersih GZCO meningkat menjadi Rp 700 miliar. Atau naik dari hasil tahun lalu sebesar Rp 565 miliar.





Close [X]
×