CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

ENSIA 2026 Soroti Transisi Energi dan Peluang Ekonomi Hijau


Kamis, 10 September 2026 / 14:49 WIB
ENSIA 2026 Soroti Transisi Energi dan Peluang Ekonomi Hijau
ILUSTRASI. Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 (Dok/PT SUCOFINDO (Persero))


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan perubahan iklim dan ketidakpastian geopolitik mendorong dunia usaha memperkuat inovasi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga efisiensi sumber daya dan ketahanan bisnis.

Kebutuhan tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 yang digelar PT SUCOFINDO (Persero) di Bali.

Baca Juga: Henkel Perkenalkan Produk Teknologi Perlindungan Infrastruktur di IEE Series 2026

Tahun ini, ajang tersebut mengusung tema Innovation for Sustainable Business and Resilient Community dengan menitikberatkan inovasi yang dapat memperkuat daya saing bisnis sekaligus ketahanan sosial dan lingkungan.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Moh Jumhur Hidayat mengatakan, inovasi lingkungan dan sosial semakin penting di tengah tiga krisis lingkungan atau triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Menurut dia, inovasi yang dikembangkan dunia usaha dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan green jobs, transisi energi bersih, pengelolaan sampah, rehabilitasi daerah aliran sungai, dan pengembangan ekonomi hijau.

“ENSIA sangat relevan dengan kebutuhan saat ini dan sejalan dengan PROPER dan Gerakan Tobat Ekologis yang diusung Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya dalam keterangan resmi saat kegiatan ENSIA 2026, Kamis (10/9/2026).

Ia menilai, pengembangan inovasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemulihan lingkungan, tetapi juga dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di Indonesia.

Baca Juga: Kalangan Korporasi Didorong Lakukan Transformasi GRC Berbasis Continuous Assurance

Dari sisi bisnis, inovasi keberlanjutan semakin berkaitan dengan upaya perusahaan menjaga efisiensi dan menghadapi perubahan lingkungan usaha.

Ketidakpastian geopolitik, misalnya, berpotensi mengganggu rantai pasok dan meningkatkan risiko biaya bagi perusahaan. Sementara itu, perubahan iklim dapat meningkatkan risiko terhadap operasional dan ketersediaan sumber daya.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero) Sandry Pasambuna mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan perlu mengembangkan inovasi yang dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya, menekan dampak lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat.

“Melalui tema ini, kami mendorong pelaku usaha dapat terus mengembangkan inovasi yang mampu mengoptimalkan efisiensi sumber daya, mengurangi dampak lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat di sekitarnya,” kata Sandry.

Salah satu perubahan pada ENSIA 2026 adalah pengalihan topik inovasi khusus dari konservasi daerah aliran sungai menjadi transisi energi bersih.

Baca Juga: Taurus Gemilang Berinvestasi di Produsen Minuman ZOZO

Perubahan tersebut mencerminkan semakin strategisnya isu efisiensi energi, ketahanan energi, dan pengurangan emisi bagi dunia usaha.

Transisi energi juga membuka peluang pengembangan kegiatan ekonomi baru, termasuk teknologi rendah karbon dan lapangan kerja hijau.

Bagi perusahaan, efisiensi energi dan sumber daya berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk menekan biaya operasional sekaligus mengurangi risiko bisnis dalam jangka panjang.

Antusiasme dunia usaha terhadap isu tersebut juga tercermin dari peningkatan jumlah peserta ENSIA. Direktur Komersial PT SUCOFINDO (Persero) Agus Permadi mengatakan, ENSIA 2026 diikuti 253 perusahaan dengan 954 paper dan 48 local hero.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang diikuti 178 perusahaan dengan 690 paper.

Baca Juga: Hilirisasi Ragi Nusantara Membidik Pasar Ekspor Tempe

Menurut Agus, peningkatan partisipasi menunjukkan semakin banyak perusahaan yang mengembangkan inovasi di bidang lingkungan, sosial, dan keberlanjutan bisnis.

Dengan perubahan fokus ke transisi energi bersih, inovasi yang dikembangkan perusahaan diharapkan tidak berhenti sebagai program keberlanjutan, tetapi dapat diterapkan secara lebih luas untuk menghasilkan efisiensi, menciptakan aktivitas ekonomi baru, dan memperkuat daya tahan bisnis terhadap perubahan ekonomi maupun lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×