kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Freeport batal bikin smelter di Papua


Senin, 16 Februari 2015 / 21:58 WIB
ILUSTRASI. Pemerintah membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR019T3 (tenor 3 tahun) dan seri SR019T5 (tenor 5 tahun).


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berubah sikap terkait instruksi kepada PT Freeport Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di Papua.

Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM mengatakan, pemerintah hanya akan mewajibkan Freeport untuk mengirimkan pasokan konsentrat ke pabrik yang akan dibangun di Bumi Cendrawasih tersebut.

"Di lapangan, kami  dapatkan legal entitas yang akan menggelar pemurnian itu BUMD yang akan bekerjasama dengan China," kata Sukhyar di kantornya, Senin (16/2).

Asal tahu saja, sebelumnya Kementerian ESDM meminta Freeport untuk membangun smelter di dua lokasi yakni di Gresik, Jawa Timur dan di Mimika, Papua. Smelter di Gresik yang saat ini masih dalam tahapan basic engineering ditargetkan bisa beroperasi mulai 2017, sedangkan pabrik di Papua dminta dibangun pasca 2021.

Belakangan, pemerintah daerah menuntut pembangunan smelter di Papua agar dipercepat pelaksanaan. Akhir pekan lalu, rombongan Kementerian ESDM pun melakukan kunjungan langsung ke calon lokasi permbangunan smelter di Papua.

Sukhyar beralasan, beralihnya pelaksana pembangunan smelter dari Freeport menjadi BUMD lantaran pihaknya lebih mementingkan aspek perekonomian Papua.

"Jadi, poinnya tidak hanya bicara smelter, tapi yang lebih besar yaitu penempatan posisi Freeport pada pembangunan kawasan industri di Timika. Nanti kan, ada rencana petrokim, pabrik semen, pembangkit, termasuk smelter," ujar Sukhyar.

Namun, Sukhyar belum memastikan investor asal China yang akan menjadi partner BUMD Papua dalam proyek pembangunan smelter copper cathode.  "Kami tidak tahu, ESDM akan memastikan perusahaan yang ada di sana, jangan sampai nanti malah terkendala di jalan," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×