Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menilai proses negosiasi perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan industri nasional sekaligus memperkuat daya saing ekspor, khususnya sektor makanan dan minuman.
GAPMMI mengapresiasi langkah Pemerintah Indonesia yang dipimpin langsung oleh Presiden RI bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan jajaran terkait dalam menjalankan negosiasi dagang dengan AS. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas iklim usaha, meningkatkan daya saing, serta memperkuat ketahanan industri.
Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman, mengatakan kepastian pasar dan iklim usaha menjadi faktor utama bagi keberlanjutan industri makanan dan minuman. Namun, kepastian tersebut juga sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku.
Baca Juga: Kesepakatan Tarif: RI Longgarkan Ekspor Mineral Kritis ke Amerika Serikat
“Bagi sektor makanan dan minuman, kepastian tersebut sangat bergantung pada ketersediaan dan keberlanjutan pasokan bahan baku industri, terutama untuk bahan baku tertentu yang hingga saat ini belum sepenuhnya tersedia atau belum dapat dipenuhi dari dalam negeri,” ujar Adhi, Senin (23/2/2026).
Dalam konteks itu, GAPMMI memandang negosiasi perdagangan yang dilakukan pemerintah dapat membuka alternatif sumber bahan baku industri.
Langkah ini dinilai berkontribusi menjaga kelangsungan produksi industri pangan hilir, mempertahankan realisasi investasi, serta memastikan penyerapan tenaga kerja di sepanjang rantai nilai industri makanan dan minuman, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Selain aspek hulu, GAPMMI menilai negosiasi tersebut juga berperan dalam mengurangi ketidakpastian perdagangan (trade uncertainty) dan memperkuat posisi produk unggulan Indonesia di pasar AS. Beberapa komoditas seperti kakao, kopi, serta sawit dan turunannya disebut memperoleh pengecualian tarif.
Baca Juga: Gapmmi Prediksi Permintaan Produk Makanan & Minuman Naik 15% - 20% Saat Nataru
“Kepastian akses pasar serta tarif yang lebih kompetitif memberikan ruang bagi pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi biaya, menjaga utilisasi kapasitas produksi, serta memperkuat perencanaan investasi yang berorientasi ekspor,” tambah Adhi.
Menurutnya, bagi industri makanan dan minuman yang terintegrasi dalam rantai pasok global, kepastian kebijakan perdagangan menjadi faktor penting untuk mempertahankan sekaligus memperluas penetrasi produk Indonesia di pasar internasional.
Sebagai bagian dari ekosistem dunia usaha, GAPMMI menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam menyeimbangkan kepentingan nasional, perlindungan konsumen, dan daya saing industri.
GAPMMI berharap hasil negosiasi perdagangan tersebut dapat segera diimplementasikan secara konsisten guna mendukung kinerja industri manufaktur dan mendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.
Baca Juga: Pengusaha Sambut Penundaan Cukai Minuman Berpemanis, Begini Kata Asrim dan Gapmmi
Selanjutnya: Impor Migas dari Amerika Serikat Disepakati, Ekonom Ingatkan Risiko Besar
Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)