kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.197
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS624.167 0,32%

Gappri: Rokok ilegal akan semakin marak bila tarif cukai naik

Minggu, 29 Juli 2018 / 19:21 WIB

Gappri: Rokok ilegal akan semakin marak bila tarif cukai naik
ILUSTRASI. Penjualan rokok - pita cukai rokok hmsp



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah menaikkan tarif cukai dan menyederhanakan layer cukai masih tegas ditolak Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri). Hal ini berpotensi meningkatknya rokok ilegal.

Gappri menilai salah satu sebab meningkatnya rokok illegal dan menurunnya produksi rokok adalah karena tingginya harga rokok akibat kenaikan tarif cukai yang tinggi di atas tingkat kemampuan beli masyarakat. Perdagangan rokok illegal selain mengganggu stabilitas industri rokok, juga mengganggu penerimaan negara.


Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Ismanu Soemiran mencotohkan di negara seperti Malaysia karena tarif rokok yang mahal membuat rokok ilegal kian banyak.

Hal ini juga dialami di kota New York, Amerika Serikat. "Bila rokok ilegal makin banyak maka pemerintah juga tidak dapat penerimaaan," kata Ismanu kepada Kontan.co.id belum lama ini.

Kalangan pelaku industri memandang, kebijakan kenaikan tarif juga ini berpotensi kontra-produktif dengan tujuan pemerintah merancang peraturan yang efektif bagi industri tembakau dalam menyeimbangkan antara kepentingan penerimaan pendapatan, kesehatan, tenaga kerja, dan pengendalian perdagangan rokok ilegal.

Ismanu menambahkan aapabila kenaikan tarif dan penyederhanaan layer dilakukan, maka akan terjadi kenaikan kenaikan regular tarif cukai, dan kenaikan atas dampak penghapusan layer.

Sebagai asosiasi dengan jumlah anggota yang 70% menguasai pasar, dampak atas kebijakan ini akan menimpa sebagian besar perusahaan di bawah asosiasi Gappri.

Dari catatan Gappri, kondisi industri rokok saat ini sedang terpuruk dengan menurunnya volume secara drastis, ditunjukkan dengan penurunan 1% sampai 2% selama empat tahun terakhir. 

Kenaikan cukai yang terus-menerus, ditambah volume industri yang semakin menurun, mengakibatkan jumlah produsen rokok menurun hingga 51% sejak 2012 – 2017, dan berdampak pada serapan tenaga kerja di pabrik rokok dan pertanian tembakau.

Dari pengalaman Gappri, saat mulai era reformasi, jumlah pabrik rokok berkurang. Sebelum era reformasi ada 5.000 pabrik saat ini menjadi tinggal 600 pabrik. Menurutnya jumlah pabrik saat ini sudah ideal bila aturan multi layernya tetap. "Yang kena aturan itu pabrik yang kecil bukan yang raksasa," katanya.

Reporter: Eldo Christoffel Rafael
Editor: Yoyok

CUKAI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0708 || diagnostic_web = 0.3478

Close [X]
×