kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Gas bumi memiliki peran strategis dalam proses transisi ke renewable energi


Selasa, 14 September 2021 / 08:10 WIB
Gas bumi memiliki peran strategis dalam proses transisi ke renewable energi


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gas bumi akan tetap menjadi energi strategis di tengah berkembangnya energi baru terbarukan seperti panas bumi, angin dan matahari. Gas bumi memiliki peran dalam proses transisi menuju renewable energi.

Arcandra Tahar, Komisaris Utama PGN  dalam webinar  bertajuk Prospek Gas Bumi di Tengah Tren Renewable Energy  mengatakan, gas bumi akan memiliki peran sentral dalam proses transisi energi dari energi fosil menuju energi baru yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Dia mencontohkan peran gas bumi di tengah upaya pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap. Mengingat biaya yang cukup mahal jika berdiri sendiri, dalam operasionalisasinya PLTS Atap masih akan membutuhkan bantuan baterai atau sumber energi lain.

Fungsi gas atau baterai di sini adalah sebagai energi primer yang akan menyokong penerapan PLTS Atap ketiga energi dari matahari drop.

Baca Juga: Penuh kontroversi, Menteri ESDM tetap terbitkan Permen ESDM No 26 tentang PLTS Atap

Dengan harga gas yang lebih kompetitif, kombinasi gas bumi dan PLTS akan lebih efisien daripada  penggunaan baterai.  "Secara komersial mestinya penggunaan gas bumi dalam pengembangan PLTS akan lebih kompetitif daripada penggunaan baterai. PGN dapat membangun sinergi dengan PLN untuk menjalankan strategi ini," jelas Arcandra dalam siaran pers yang diterima Kontan.co.id, Senin (13/9).

Pasar gas bumi juga dinilai masih sangat lebar. Seperti halnya yang kini sudah dan sedang dilakukan oleh PGN dengan mensuplai kebutuhan gas bagi industri kilang minyak (refinery) yang dikelola oleh Pertamina.  Sejumlah kilang minyak yang  mendapat suplai gas dari PGN adalah kilang minyak Cilacap, Balongan dan kilang lainnya.

Untuk mendukung pemenuhan gas bagi industri kilang tersebut, PGN tengah membangun sejumlah infrastruktur menuju lokasi kilang. Langkah ini dilakukan melalui pembangunan infrastruktur seperti storage dan regasifikasi melalui fasilitas seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU).

"PGN akan terus mengoptimalkan pasar-pasar eksisting melalui kolaborasi dengan Pertamina sebagai holding migas. Termasuk juga masuk ke industri petrokimia, dimana gas bumi dibutuhkan untuk memproduksi metanol dan amonia yang pasarnya terus meningkat," ujarnya.

Arcandra menambahkan, kebijakan sejumlah negara untuk beralih ke energi baru terbarukan harus dicermati dengan baik. Terutama berkaitan dengan upaya pemenuhan zero carbon di tahun 2050 oleh sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa.

Baca Juga: Ini sejumlah investasi Perusahaan Gas Negara (PGAS) untuk infrastruktur gas bumi

AS  bersama Uni Eropa, Jepang dan Korea sudah memiliki komitmen untuk mencapai zero emisi pada tahun 2050, sekitar 29 tahun lagi. Sebagai usaha mewujudkan komitmen itu, Uni Eropa dan beberapa negara tersebut sudah mulai fokus pada pengembangan renewable energy. 

Proyeksi OPEC, sampai tahun 2040 kebutuhan minyak dunia akan bertambah sekitar 20 juta barel per day dari kebutuhan tahun 2020 yang sebanyak 90 juta barel per day. Sementara kehadiran Electric Vehicle (EV) diproyeksikan hanya akan mengonversi  penggunaan BBM sekitar 6 juta barel per hari di seluruh dunia pada 2040.

"Sebagai energi bersih yang ramah lingkungan, harga kompetitif dan sumbernya masih sangat besar, gas bumi seharusnya menjadi bagian penting dalam proses transisi energi di Indonesia. Proses itu tentunya tidak mudah. PGN sebagai perusahaan yang sudah bertahun-tahun mengambil peran paling depan dalam pengembangan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi harus mampu mengoptimalkan peluang itu," tambah Arcandra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×