kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Gas tak mengalir, PLTGU Tambak Lorok pakai solar


Selasa, 03 Januari 2012 / 18:15 WIB
Gas tak mengalir, PLTGU Tambak Lorok pakai solar
ILUSTRASI. Promo BreadTalk spesial gajian periode 25-27 Januari 2021 menawarkan aneka roti seharga Rp 8.000. Dok: Instagram BreadTalk


Reporter: Fitri Nur Arifenie, Petrus Dabu | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Sampai hari ini, pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) di Tambak Lorok, Semarang, masih memakai bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk menjalankan pembangkitnya. Pilihan itu dilakukan karena pasokan gas dari lapangan Kepodang di laut utara Jawa belum jua berhembus.

Suryadi Mardjoeki, Kepala Divisi Minyak dan Gas PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bilang, total kebutuhan gas untuk pembangkit yang terletak di Semarang itu mencapai 160 mmscfd.

Selain dari lapangan Kepodang, PLN sekarang meminta komitmen pasokan gas selama 15 tahun dari lapangan Gundih, Jawa Tengah yang dioperasikan oleh Pertamina EP sebanyak 50 mmscfd.

Gas dari Kepodang seharusnya sudah mengalir ke PLN pada kuartal IV 2011. Namun, karena pipa transmisi belum juga dibangun, membuat pasokan gas molor mengalir ke PLN.

Sementara itu gas dari lapangan Gundih baru mengalir pada ke Tambak Lorok mulai 1 Juli 2013 mendatang. “Sekarang kita terpaksai memakai BBM,”ujar Suryadi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/1).

Suryadi menghitung kebutuhan BBM untuk menyalakan pembangkit Tambaklorok bisa mencapai 2.688 kiloliter (KL) dengan kisaran harga BBM Rp 8.500 per liter. "Pemakaian BBM jauh lebih mahal," terang Suryadi. Dengan menggunakan gas, PLN setidaknya bisa menghemat biaya operasional sebesar Rp 2,9 triliun per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×