Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai dapat memicu risiko inflasi pangan (volatile foods).
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi mengatakan, dampak kenaikan harga BBM non-subsidi secara langsung tak akan begitu drastis, mengingat penggunaannya didominasi masyarakat kelas menengah-atas.
Namun, secara tak langsung, Rahma mencermati risiko yang lebih besar muncul dari transmisi ke harga pangan.
"Jika kenaikan biaya logistik akibat penyesuaian harga energi ini tidak dimitigasi, dalam proyeksi saya inflasi pangan bisa menembus 5%–6% pada April 2026," ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: Ancaman Lonjakan Harga BBM Nonsubsidi per April Tekan Daya Beli,Picu Inflasi Berantai
Sementara itu, secara agregat, Rahma memprediksi inflasi tahunan (year-on-year/yoy) akan bergerak di level 2,72%, sedikit di atas asumsi APBN 2026 yang sebesar 2,5%.
Pasalnya, meskipun yang naik adalah produk nonsubsidi, price setting oleh pedagang pasar dinilai kerap kali terjadi.
Rahma melihat, pedagang sering ikut mengerek harga barang pokok dengan alasan ongkos transportasi naik, yang memperluas dampak inflasi dan efek psikologisnya ke masyarakat kelas bawah.
Menurutnya, hal ini secara langsung akan menekan nilai tukar rupiah semakin dalam. Walhasil, beban impor minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) dinilai bisa semakin berat bagi Pertamina.
Baca Juga: Efek Kenaikan Pertamax Turbo Tak Signifikan, Tapi Bisa Mengubah Perilaku Konsumen
"Sehingga, ruang untuk menahan harga BBM non-subsidi menjadi sangat sempit tanpa mengganggu arus kas perusahaan atau menambah kompensasi energi dari APBN," tegas Rahma.
Asal tahu saja, Pertamina resmi menaikkan harga produk BBM non-subsidi sejak 18 April 2026 pukul 00.01 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Di antaranya, Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.850 per liter, Dexlite ke Rp 24.150 per liter, sedangkan Dex menjadi Rp 24.450 per liter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













