Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) berpotensi membuka peluang investasi baru bagi sejumlah sektor, termasuk industri energi baru dan terbarukan (EBT).
Untuk diketahui, negosiasi IEU-CEPA telah rampung pada September 2025. Pemerintah menargetkan perjanjian tersebut ditandatangani pada November 2026 dan mulai diimplementasikan pada awal 2027.
Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna mengatakan, sektor EBT memiliki peluang cukup besar untuk menarik investasi dari Uni Eropa. Namun, Indonesia perlu memperkuat transparansi pengadaan serta kepastian waktu eksekusi proyek agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan.
Baca Juga: Rokok Ilegal Lebih Murah 60%, APTI: Penjualan Rokok Legal Terus Turun
"Peluangnya cukup besar, memang yang menjadi tantangan penting buat Indonesia adalah memastikan peluang tersebut transparan di dalam jadwal pengadaan dan proses pengadaan serta tenggat waktu eksekusinya," jelas Putra kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Menurut Putra, salah satu pembangkit EBT yang berpotensi menarik investasi Eropa adalah pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Hal ini sejalan dengan kemampuan Eropa yang memiliki infrastruktur dan basis manufaktur industri tenaga angin yang cukup kuat.
Selain pembangkit, peluang juga terbuka pada pengembangan jaringan listrik, khususnya melalui teknologi smart grid.
"Kedua, terkait dengan grid management atau penggunaan smart grid di dalam jaringan listrik, ini juga prospektif karena Uni Eropa merupakan salah satu market yang memiliki tenaga listrik yang cukup kompleks," ujarnya.
Sementara itu, peluang investasi Eropa di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dinilai menghadapi tantangan dari sisi daya saing. Putra menilai Indonesia akan sulit menarik investasi PLTS dari Eropa karena harus bersaing dengan produsen dari negara lain.
"Untuk PLTS saya rasa akan sulit bagi Uni Eropa untuk bisa competing dengan negara seperti China," katanya.
Di luar pembangkit, industri daur ulang baterai juga dinilai memiliki peluang untuk menarik investasi dari Uni Eropa. Menurut Putra, sektor tersebut sejalan dengan upaya Eropa membangun rantai pasok alternatif di luar China. "Karena mereka juga cukup serius mengembangkan alternative supplier, di luar dari China sendiri," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














