kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ikan yang kita makan, 80% komponennya impor


Selasa, 09 Desember 2014 / 11:05 WIB
ILUSTRASI. Summarecon Agung (SMRA) Cadangkan Capex Rp 700 Miliar Untuk Akuisisi Lahan dan Bangun Proyek Baru


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Ikan sebagai hasil kekayaan laut Indonesia merupakan salah satu sumber protein hewani yang seharusnya melimpah. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menegaskan dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan atau laut. Namun, Susi menyayangkan, Indonesia yang memiliki panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia, tidak mampu menyediakan sumber protein mandiri. 

Kegiatan perikanan tangkap terkendala illegal fishing, sementara kegiatan perikanan budidaya juga terbilang belum mandiri. "Sebanyak 80% dari pakan ikan itu, fish meal-nya adalah impor," kata Susi, Senin (8/12/2014). 

Bahkan nilai, impor pakan ikan pada bulan terakhir mencapai Rp 79 triliun. Susi menaksir, pada bulan ini nilai impor pakan ikan akan makin tinggi, lantaran nilai tukar rupiah makin melemah. 

Kondisi ini sangat disayangkan oleh Susi. Dia pun berharap ke depan, Indonesia bisa menekan impor pakan ikan untuk perikanan budidaya. 

"Kita jangan sampai dengan laut yang dua pertiga dari wilayah kita ini, bukan menjadi swasembada. Tetapi, ikan yang kita makan pun 80 persen komponennya impor. Jadi, barangkali tidak banyak orang sadar, lele, mujair, yang kita makan itu, pakannya impor," kata Susi. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×