kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Impor indukan ayam perlu ditambah 15%-20%


Kamis, 18 November 2010 / 13:08 WIB
ILUSTRASI. EKSPOR UDANG WINDU


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Impor indukan ayam (grand parents stock/GPS) perlu dinaikan sebesar 15-20% untuk antisipasi kenaikan permintaan dua tahun mendatang. Penambahan impor itu dilakukan karena permintaan DOC (Day Old Chicken) untuk peternakan ayam pedaging meningkat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo, Kamis (18/11).

“Untuk antisipasi permintaan dua tahun mendatang, penambahan impor indukannya itu mesti dilakukan dari sekarang,” kata Don. Tahun lalu impor indukan tersebut mencapai 400 ribu ekor dan tahun ini tidak banyak perubahan.

GPS merupakan kakek atau nenek dari DOC yang akan diternak oleh peternak. Setelah di impor, GPS tersebut mesti harus dirawat sampai bertelur. Dari telur-telur yang dihasilkan GPS tersebutlah kelak menjadi indukan dari DOC. Untuk mengantisipasi terjadi peningkatan DOC tersebutlah, jumlah indukan ayam tersebut mesti diperbanyak.

“Ini untuk antisipasi kenaikan permintaan akan daging ayam pertahun 7%,” jelas Don. Alasan kenaikan dari pemrintaan daging ayam itu dikarenakan harga yang lebih murah dibandingkan harga daging sapi. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga menjadi alasan karena menimbulkan peningkatan daya beli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×