kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Impor indukan ayam perlu ditambah 15%-20%


Kamis, 18 November 2010 / 13:08 WIB
ILUSTRASI. EKSPOR UDANG WINDU


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Impor indukan ayam (grand parents stock/GPS) perlu dinaikan sebesar 15-20% untuk antisipasi kenaikan permintaan dua tahun mendatang. Penambahan impor itu dilakukan karena permintaan DOC (Day Old Chicken) untuk peternakan ayam pedaging meningkat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo, Kamis (18/11).

“Untuk antisipasi permintaan dua tahun mendatang, penambahan impor indukannya itu mesti dilakukan dari sekarang,” kata Don. Tahun lalu impor indukan tersebut mencapai 400 ribu ekor dan tahun ini tidak banyak perubahan.

GPS merupakan kakek atau nenek dari DOC yang akan diternak oleh peternak. Setelah di impor, GPS tersebut mesti harus dirawat sampai bertelur. Dari telur-telur yang dihasilkan GPS tersebutlah kelak menjadi indukan dari DOC. Untuk mengantisipasi terjadi peningkatan DOC tersebutlah, jumlah indukan ayam tersebut mesti diperbanyak.

“Ini untuk antisipasi kenaikan permintaan akan daging ayam pertahun 7%,” jelas Don. Alasan kenaikan dari pemrintaan daging ayam itu dikarenakan harga yang lebih murah dibandingkan harga daging sapi. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga menjadi alasan karena menimbulkan peningkatan daya beli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×