kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Impor Melaju 19,94% pada Semester I-2026, Pemerintah Genjot Kinerja Ekspor


Minggu, 04 Oktober 2026 / 14:11 WIB
Impor Melaju 19,94% pada Semester I-2026, Pemerintah Genjot Kinerja Ekspor
ILUSTRASI. Volume ekspor produk sawit semester I 2026 (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan impor Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor pada Januari–Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor tumbuh 19,94% secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc), sementara ekspor tumbuh 4,43% ctc.

Meski demikian, surplus perdagangan Indonesia masih terjaga sebesar US$3,70 miliar atau sekitar Rp66,22 triliun, ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar US$22,45 miliar atau sekitar Rp401,81 triliun.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan (Kemendag), Ni Made Kusuma Dewi mengatakan, disparitas pertumbuhan impor dan ekspor tidak dapat diartikan secara parsial sebagai pelemahan kinerja eksternal Indonesia.

Menurutnya, kenaikan impor terutama didorong oleh kebutuhan produksi dan barang modal. Impor untuk kebutuhan produksi tumbuh 20,42%, sedangkan impor barang modal tumbuh 20%. Struktur impor juga masih didominasi barang nonkonsumsi, dengan porsi kebutuhan produksi mencapai 71,45% dan barang modal sekitar 19,88%.

Baca Juga: Kadin Genjot Ekspor Indonesia, Bakal Bidik Tekstil, Elektronik hingga Mineral Kritis

“Kondisi tersebut merefleksikan ekspansi dan peningkatan capacity utilization sektor manufaktur domestik,” ujar Kusuma dalam jawaban tertulis kepada KONTAN, Minggu (4/10/2026).

Ekspor Masih Dibayangi Ketidakpastian Global

Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia pada Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar atau sekitar Rp2.989,50 triliun, tumbuh 4,43% ctc. Ekspor nonmigas tumbuh 5,21% menjadi US$160,01 miliar atau sekitar Rp2.863,86 triliun.

Kusuma mengatakan, pertumbuhan ekspor masih relatif terbatas di tengah perlambatan perdagangan global dan tingginya ketidakpastian kebijakan perdagangan. World Bank memperkirakan pertumbuhan perdagangan global melambat pada 2026, antara lain akibat “front-loading” perdagangan sebelum perubahan kebijakan.

Ketidakpastian juga dari adanya perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat. Dalam US–Indonesia “Agreement on Reciprocal Trade” yang difinalisasi pada 19 Februari 2026, AS menetapkan tarif resiprokal 19% terhadap impor dari Indonesia, dengan pengecualian produk tertentu yang memperoleh tarif 0%.

Pada Juli 2026, AS juga kembali menerapkan tindakan tarif berdasarkan Section 301 terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Perubahan kebijakan tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian bagi eksportir dalam menentukan harga, kontrak, tujuan pasar maupun rencana produksi.

“Ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan dan implementasinya juga dapat memengaruhi arus perdagangan serta penyesuaian rantai pasok global,” ujar Kusuma.

Selain kebijakan perdagangan, pergerakan harga komoditas dunia turut memengaruhi kinerja ekspor. Berdasarkan World Bank Pink Sheet Juli 2026, harga batu bara turun 4,77% secara bulanan, minyak kelapa sawit turun 0,27%, dan nikel turun 5,33%.

Baca Juga: Ekspor Agro Tumbuh, Pemerintah Dorong Hilirisasi Kopi, Kakao dan Tembakau

Namun, penurunan harga tersebut tidak otomatis diikuti penurunan nilai ekspor Indonesia. Pada Januari–Juli 2026, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati tumbuh 9,07%, bahan bakar mineral tumbuh 11,05%, sedangkan ekspor nikel dan barang daripadanya meningkat 49,84%.

Sebaliknya, ekspor logam mulia, perhiasan dan permata turun 40,08%, mesin dan peralatan mekanis turun 9,90%, serta karet dan barang dari karet turun 3,18%.

“Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga dunia bukan satu-satunya faktor yang menentukan nilai ekspor, karena perkembangan permintaan dan kinerja masing-masing komoditas juga turut berpengaruh,” ujar Kusuma.

Meski pertumbuhan Januari–Juli masih terbatas, kinerja ekspor menunjukkan penguatan pada periode berikutnya. Pada Januari–Agustus 2026, nilai ekspor mencapai US$193,64 miliar atau sekitar Rp3.465,77 triliun, tumbuh 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penguatan terutama ditopang industri pengolahan dengan nilai ekspor US$159,55 miliar atau sekitar Rp2.855,63 triliun, tumbuh 7,87%. Khusus Agustus 2026, nilai ekspor mencapai US$26,61 miliar atau sekitar Rp476,27 triliun, tumbuh 6,72%, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$25,62 miliar atau sekitar Rp458,55 triliun. Ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 tumbuh 12,48%.

Strategi Pemerintah Jaga Surplus

Untuk mempercepat pertumbuhan ekspor sekaligus mempertahankan surplus perdagangan, Kemendag menjalankan tiga program prioritas yang saling terintegrasi, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Akses Pasar Ekspor, serta Dari Lokal untuk Global.

Pengamanan pasar dalam negeri dilakukan melalui peningkatan penetrasi produk dalam negeri, penguatan pengawasan barang beredar, perlindungan dan pemberdayaan UMKM dalam ekosistem perdagangan digital, serta stabilisasi harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok.

Baca Juga: Industri Mamin RI Hadapi Tantangan Ekspor, dari Geopolitik hingga Standar Global

Pemerintah juga mengoptimalkan instrumen trade remedies, seperti antidumping dan safeguard untuk memastikan perdagangan berlangsung secara adil dan memberikan ruang bagi industri dalam negeri untuk tumbuh.

Sementara itu, perluasan akses pasar ekspor dilakukan melalui percepatan penyelesaian dan optimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan, diversifikasi pasar tujuan ekspor, promosi dagang, business matching, serta penguatan informasi dan intelijen pasar.

Kemendag juga mengawal berbagai hambatan perdagangan yang dihadapi eksportir Indonesia agar akses pasar tetap terbuka. Langkah ini ditujukan agar pertumbuhan ekspor tidak hanya bergantung pada pasar dan komoditas tertentu.

Dorong Hilirisasi dan Basis Eksportir

Program Dari Lokal untuk Global mencakup UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, dan Campuspreneur. BISA merupakan akronim dari Berani Inovasi dan Siap Adaptasi.

Program tersebut diarahkan untuk memperluas basis eksportir, tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga UMKM, pelaku usaha daerah dan desa, serta generasi muda. UMKM BISA Ekspor diarahkan pada peningkatan kesiapan produk, pemahaman persyaratan pasar, informasi dan akses pasar, serta business matching melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Desa BISA Ekspor diarahkan untuk mengembangkan produk unggulan desa agar masuk ke rantai pasok dan pasar global. Sementara Campuspreneur dikembangkan untuk membangun ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi dengan mendorong mahasiswa menjadi wirausaha inovatif dan berorientasi pasar.

“Pertumbuhan ekspor tidak hanya bertumpu pada pasar dan komoditas tertentu, tetapi semakin terdiversifikasi baik dari sisi negara tujuan maupun produk,” ungkap Kusuma.

Baca Juga: DSI Bakal Jadi Offtaker Ekspor, Ada Risiko Finansial hingga Rp 901,5 Triliun

Kemendag juga menilai pembukaan pasar baru dan optimalisasi perjanjian perdagangan penting untuk meningkatkan kinerja ekspor. Perjanjian perdagangan diharapkan tidak berhenti sebagai kesepakatan, tetapi dapat dikonversi menjadi peluang bisnis dan transaksi nyata bagi eksportir Indonesia, termasuk UMKM.

Karena itu, pemerintah memperkuat sosialisasi dan pendampingan kepada pelaku usaha, penyediaan informasi peluang pasar, fasilitasi business matching, serta optimalisasi peran perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Dalam waktu dekat, sektor industri pengolahan menjadi salah satu prioritas karena menjadi penopang utama ekspor nonmigas. Komoditas yang terus dikembangkan antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, kendaraan dan bagiannya, produk kimia, serta nikel dan barang daripadanya.

Kemendag juga mencatat sejumlah komoditas dengan pertumbuhan ekspor tinggi, seperti tembaga, timah, olahan serealia, alas kaki, aluminium, dan berbagai produk kimia.

Pengembangan ekspor diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan hilirisasi agar ekspor tidak hanya bertumpu pada bahan mentah atau produk antara, tetapi semakin banyak menghasilkan produk olahan dan manufaktur bernilai tambah lebih tinggi.

Dengan langkah tersebut, pemerintah menargetkan basis eksportir Indonesia semakin luas dan produk yang masuk ke pasar global semakin beragam serta bernilai tambah. Upaya itu diharapkan dapat memperkuat daya saing ekspor sekaligus menjaga keberlanjutan surplus perdagangan Indonesia.

Baca Juga: Kadin: IEU-CEPA Harus Dorong Ekspor Produk Bernilai Tambah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×