kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Indonesia kekurangan petugas navigasi


Rabu, 16 Januari 2013 / 17:27 WIB
ILUSTRASI. Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (16/8/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.


Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Indonesia yang merupakan negara kepulauan ternyata kekurangan pegawai navigasi penerbangan. Fakta ini disampaikan oleh Menteri Perhubungan, E.E. Mangindaan di Jakarta, Rabu (16/1).

"Saat ini jumlah pegawai ATC (Air Traffic Service Control) hanya 1.000 petugas. Kami masih butuh 800 orang lagi," kata Mangindaan di acara pengangkatan direksi Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Perum Navigasi.

Kondisi ini dibenarkan oleh Ichwanul Idrus, Direktur Utama Perum Navigasi. Bahkan hasil hitungan dari Ichwanul, kekurangan tenaga navigasi di Indonesia mencapai 1.500 orang atau lebih banyak dari proyeksi Menteri Perhubungan.

"Catatan saya saat jadi Direktur Navigasi, pada Maret 2012 lalu, kebutuhan petugas ATC sebanyak 555 orang, petugas komunikasi penerbangan kurang 435 orang, petugas penerangan aeronautika kurang 250 orang, dan teknisi radio radar masih butuh 400 orang," papar Ichwanul.

Meski begitu, Ichwanul belum bisa menghitung berapa jumlah pegawai yang akan bekerja di Perum LPPNPI nantinya. "Belum kami hitung,” jelas Ichwanul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×