Reporter: Asnil Bambani Amri |
JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah Australia terkait bea masuk produk otomotif dan komponen. Indonesia minta agar bea masuk tersebut menjadi nol persen. Pasalnya, produk otomotif dari Indonesia tersebut dinilai mampu bersaing di Negeri Kanguru.
“Indonesia memiliki produk unggulan yakni kendaraan Multi Purpose Vehicle (MPV) dan juga Sport Utility Vehicle (SUV),” kata Iman Pambagyo, Direktur Kerjasama Regional, Kementerian Perdagangan di Jakarta, Kamis (19/8).
Saat ini, produk otomotif di pasar Australia dikuasai oleh Thailand. Bila dilihat dari jarak Thailand dan Australia, keduanya lebih jauh dibandingkan dengan Indonesia dan Australia.
Iman menyebutkan, soal daya saing produk otomotif Indonesia sudah tidak bisa diragukan lagi karena sudah melakukan ekspor kendaraan ke Jepang dan juga Timur Tengah serta kawasan Afrika Selatan. Selain ekspor MPV, seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Grand Max, Indonesia juga sudah mengapalkan kendaraan SUV seperti Toyota Fortuner ke Timur Tengah dan Afrika. Sementara itu, untuk produk truk dan jenis kendaraan sedan, Thailand diprediksi masih memiliki keunggulan ketimbang Indonesia sehingga sulit untuk bersaiang di Australia.
Namun, merebut pasar otomotif di Australia nyatanya tidak gampang. Pasalnya, Thailand sudah lebih dulu memiliki kerja sama Free Trade Agreement (FTA) dengan Australia dan sepakat menurunkan tarif ekspor impor masing-masing produknya.
Selain produk otomotif, Indonesia juga memiliki kesempatan untuk menembus pasar onderdil alias suku cadang kendaraan di Australia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













