Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang bertengger di atas level US$ 100 per barel diprediksi mulai menekan pos keuangan PT Pertamina.
Meski disparitas dengan harga keekonomian semakin melebar, badan usaha milik negara (BUMN) migas ini diperkirakan masih sanggup menahan harga Pertalite dan Pertamax hingga pengujung tahun ini.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo mengungkapkan, pergerakan harga minyak global ke depan masih akan fluktuatif yang dipicu oleh sentimen geopolitik. Oleh sebab itu, kalkulasi beban subsidi sebaiknya tidak mengacu pada harga harian.
Baca Juga: Dorong Loyalitas Konsumen, Paramount Land Gelar Annual Golf Tournament 2026
"Dari chart Brent di atas (ICP US$ 110,27), harga akan terus naik turun berdasarkan isu-isu strategis Perang Teluk Persia. Jangan terjebak angka jangka pendek based on spot price. Lakukan prediksi menggunakan angka rata rata. Jika mengacu pada chart di atas, maka rata rata adalah sekitar US$ 105/bbl. ICP sekitar US$ 108/bbl," ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Hadi mengungkapkan, tensi tinggi di Timur Tengah berpotensi menahan harga minyak mentah di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Tren naik turun akan terjadi namun kalau kita lihat akan pada kisaran batas bawah US$ 90/bbl dan batas atas US$ 110/bbl Brent. Menurut informasi intelligent market, sampai akhir tahun harga ICP akan remaining high. Benar, rata-rata sampai akhir tahun akan masih di sekitar above US$ 100/bbl. Diperkirakan perundingan Iran vs USA masih panjang, setelah itu ada masa transisi dan masa settlement," jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini otomatis mengerek harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Berdasarkan perhitungan IATMI dengan asumsi yield 0,7, harga keekonomian Pertalite saat ini berada di angka Rp 16.600 per liter.
Sementara itu, dengan asumsi yield 0,6, harga keekonomian Pertamax melesat ke level Rp 19.500 per liter.
Dengan harga jual Pertalite saat ini di angka Rp 10.000 per liter dan Pertamax Rp 12.400 per liter, terdapat celah (spread) yang cukup lebar dan harus ditutupi.
Baca Juga: Sasar Segmen High-End, Jaya Sukses (RISE) Buka Vasa Suites di Pusat CBD Surabaya
"Spread harga Pertalite Rp 6.600 untuk Pertamax Rp 7.100. Angka enggak begitu jauh, saya rata-ratakan saja spread di Rp 6.850," tuturnya.
Konsekuensinya, beban korporasi yang harus ditanggung Pertamina untuk menjaga daya beli masyarakat sangat masif. Mengingat, volume penyaluran kedua jenis BBM tersebut menguasai hajat hidup orang banyak.
"Konsumsi Pertalite dan Pertamax nasional sekitar 45 juta KL Per Tahun. Maka Pertamina akan menanggung selisih sebesar Rp 31 triliun selama setahun atau sekitar Rp 15 triliun selama 6 bulan ke depan. Tergantung kekuatan keuangan Pertamina kalau mampu menahan beban tersebut. Perkiraan saya Pertamina kuat bertahan sampai akhir tahun walau berdarah-darah," tegas Hadi.
Di sisi lain, guna meredam laju konsumsi, Hadi menilai rencana pembatasan BBM bersubsidi perlu segera direalisasikan secara matang. Sebagai solusi jangka panjang, ketergantungan terhadap energi fosil harus mulai dikurangi secara bertahap.
"Pembatasan ide yang baik, silahkan dilaksanakan dengan study mendalam dengan masing masing kategori antara kendaraan pribadi, niaga dan logistik. Catatan ke depan karena harga BBM semakin mahal dan langka, maka Pemerintah harus melakukan konversi BBM ke Gas dan konversi BBM ke Listrik," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah memastikan tidak akan mengerek harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi hingga pengujung tahun ini. Langkah tersebut diambil meskipun nilai tukar rupiah terpantau mengalami pelemahan dan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sempat menyentuh level US$ 117 per barel
Baca Juga: PT Andalan Artha Primanusa Kejar CAGR Pendapatan 28% hingga 2028
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyatakan, penetapan kebijakan harga BBM subsidi ini didasarkan pada perhitungan rata-rata ICP yang dinilai masih berada di bawah batas asumsi pemerintah.
"Saya dalam mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai dengan US$ 100 rata-rata ya, rata-rata yang dimasukkan itulah Januari sampai sekarang," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Bahlil menjelaskan, pergerakan harga minyak mentah dunia sejauh ini masih sangat fluktuatif. Berdasarkan kalkulasinya, realisasi rata-rata ICP Indonesia sejak awal tahun hingga saat ini sebenarnya masih berada di kisaran angka yang aman.
"Kalau sampai sekarang itu ICP dunia itu kan naik turun, naik turun US$ 117, turun US$ 90, ada yang US$ 80 lebih, ada yang US$ 100. Rata-rata ICP kita sekarang itu kan kurang lebih sekitar US$ 80 - US$ 81 terhitung dari Januari sampai sekarang," jelasnya.
Dengan pertimbangan teknis tersebut, Bahlil menegaskan, anggaran subsidi untuk komoditas energi masih berada dalam posisi yang mencukupi. Pemerintah pun berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dengan tidak mengubah harga jual BBM penugasan maupun subsidi, sekaligus menepis isu penghapusan produk Pertalite.
"Jadi belum sampai US$ 100 lah, dan belum ada kenaikan, tidak akan naik Insya Allah ya doa ini ya, tidak akan kita naikkan subsidi BBM. Insya Allah sampai akhir tahun," pungkasnya.
Baca Juga: Danantara Jamin Tak Ganggu Kontrak Lama Eksportir, Tapi Bakal Evaluasi Harga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













